Avoir Froid De La Solitude De La Vie

J'ai trois fenetres ma chambre, l'amout, la mer, la mort, et toi...?

Wednesday, December 14, 2005

Kenapa yaa...? Menikah itu bukan hal gampang lohh...!

Sebuah tulisan kontradiktif dari apa yag sudah saya tulis sebelumnya, yaaa.., tulisan ini.

Let me explain first, tulisan yang sebelumnya adalah sudut pandang seorang sahabat, sedangkan yang ini adalah pendapat saya sendiri. Sahabat saya, penganut pandangan konservatif menurut saya, yang lebih suka pernikahan ”umur wajar”. Yang dimaksud ”umur wajar” disini adalah pernikahan yang bukan dilakukan saat kita umur kepala tiga yang tidak ditunda dengan sengaja oleh banyak faktor. Garis bawahi, bukan karena faktor belum dapet orang yang naksir atau ditaksir, a.k.a ga laku.

Sebuah pernikahan, bukan sesuatu yang main-main. Banyak sekali hal yang dipertimbangkan untuk menyelaraskan dua manusia, termasuk latar belakang sosial, karakter, kaluarga. Proses pencarian, pemilihan, penyesuaian terhadap semua hal tersebut, bukan suatu hal yang mudah dijalankan. Setidaknya kalau bagi orang diluar sana mudah, maka tidak bagi saya.

Bayangkan saja, jika semua hal tersebut tidak dilalui dengan pemikiran yang masak, maka taruhannya adalah kegagalan perkawinan. Bukan kebahagiaan saja yang jadi korban, tapi nama baik keluarga. Blon lagi bakal jadi gunjingan keluarga besar, teman-teman di kantor.

Apabila sebuah pertanyaan kapan akan menikah dilemparkan untuk saya, maka jawaban yang akan saya berikan adalah sebagai berikut: saya akan menikah saat saya sudah memiliki kesiapan keyakinan terhadap pertimbangan-pertimbangan yang memang cukup masuk akal, untuk saya. Kalau tidak ada keyakinan, walaupun saya sudah memiliki sebuah hubungan dengan seseorang, maka sebuah perkawinan tidak akan pernah ada sampai saya menemukan orang yang memang cocok dengan profile diri, lingkungan, dan keluarga darimana saya berasal. Karena kalau pernikahan tetap dijalankan dengan ketidakyakinan yang masih terus bercokol, maka hasilnya sudah dipastikan tidak akan seperti yang diharapkan. Coba lihat banyaknya kegagalan pernikahan yang disebabkan karena ketidakpuasan terhadap pasangan, atau adanya kehadiran pihak ketiga. Kemungkinan terakhirnya adalah perceraian, atau melakukan poligami. Dan kembali lagi bahwa penyebabnya adalah karena sebuah ketidakyakinan, yang mungkin saja karena didorong oleh faktor-faktor misalnya perkawinan yang hanya karena faktor suka/asmara, kebutuhan unsur biologis, desakan orang tua, pertimbangan umur.

Setelah menikah, karena memang sayang pada pasangan, tapi mungkin tidak cinta-cinta amat, sekedar mempertimbangkan faktor-faktor di atas, lalu di tengah perkawinan bertemu seorang mantan, atau orang baru yang ternyata “tipe gue bangeet”. Yang muncul kemudian adalah ketidak-mampuan menahan hasrat yang memang belum pernah dirasakannya. Sangat wajar, dan tidak salah. Hanya salah timing. Lalu akhirnya terjadilah perselingkuhan. Punya anak lagi. Akhirnya istri/suami tahu ada kehadiran pihak ketiga. Tapi tidak bisa cerai. Terjadilah: poligami.

Hal utama yang harus dilakukan ialah kembalikan semua kepada hati kecil kita. Lakukan dengan jujur dan tanpa paksaan apapun dan dari pihak manapun. Bukan paksaan dari lingkungan, orang tua, atau bahkan ego kita sendiri. Apa betul saat ini adalah waktu yang tepat untuk menikah, jika ya, apakah betul orang ini adalah orang yang tepat. Kalau jawabannya tidak, segera ambil tindakan dengan menunda waktu pernikahan untuk kembali berpikir, atau malah mengambil tindakan frontal yaitu segera cari orang lain. Itu jauh lebih baik daripada membuang waktu dan umur.

Maka, jangan pernah melakukan sebuah pernikahan hanya karena suatu paksaan secara sosial, lingkungan, “kewajiban yang tak tampak” wujudnya. Wujudkan semuanya hanya karena sebuah ”suara” yang menciptakan satu keyakinan: Yup, ini saatnya saya menikah karena dialah orangnya!


Kantor Jak Rabu 14 Des 05, 20.10

Kenapa kamu belum menikah juga...?

Ga berasa sudah akhir bulan, dan sudah saatnya harus melakukan aktifitas belanja kebutuhan untuk satu bulan ke depan. Lalu tiba-tiba handphone berbunyi. Ternyata sahabat lama. Kangen ingin ketemu katanya, dan yang pasti kangen curhat. Tempat dan waktu langsung ditentukan. Transaksi belanja bulanan segera diselesaikan, dan melesat keluar mencari taksi. Taksi? Mppffhh… sebenarnya saat ini jasa transportasi yang satu ini sudah bukan favorit, rugi rasanya karena tarifnya sudah melonjak menjadi demikian ”baru” tapi pelayanan masih model “lama”… Namun demi mengejar waktu untuk bertemu teman lama, it’s ok lah!

Satu jam, sudah plus macet, saya sampai di lokasi yang sudah disepakati. Sang sahabat sudah 5 menit tiba lebih dulu. Sebuah ritual biasa, cium pipi kanan dan kiri, dan saling menggoda dengan celaan: kok tambah gendut, ih tambah item deh lo terjadi. Setelah pesan minum dan cemilan ringan, kami mulai membuka percakapan dengan pertanyaan: apa kabar lo, gimana kerjaan lo, gimana bos lo masih galak, gimana cowok lo, gimana nyokap lo masih suka ngomel…

Lalu percakapan mengarah ke arah curhat. Sahabatku mau kawin pertengahan tahun ini. Waduuuhhhh seneng banget saya dengernya… Kontan saya berdiri, dan memeluknya sebagai ekspresi ikut senang atas kebahagiaannya. Tapi reaksi yang diberikannya justru sungguh mencengangkan. Dia ga senang! Aneh! Padahal dimana-mana, niat baik berupa ajakan melangkah ke gerbang pernikahan dari sang pacar adalah kebahagiaan, karena merupakan satu langkah ke depan dalam sebuah hubungan.

“Lo emang dijodohin bokap nyokap lo ama tu cowo ?”
“Gak!”
“Lah, trus knapa? Lo berdua kan udah 4 taun pacaran. Bagus dong kalo sekarang akhirnya married. Kenapa sih?”
“Gue blon siap!”

Pertanyaan-pertanyaan menghujani kepala saya dan coba mencari sendiri jawabannya: Waduh?! Kok blon siap? Knapa? Umur, cukup: ga ketuaan, ga kemudaan. Lama pacaran, cukupan lah, kalo lebih lama pacaran malah biasanya bahaya bisa jadi bosen. Lah trus apanya yang blon siap…??? Banyak dari teman-teman yang sudah pengen married tapi sayang calonnya belom juga ketemu-ketemu.


Banyak faktor yang membuat individu menjadi ragu untuk melangsungkan pernikahan. Antara lain karena proses seleksi ketat yang mereka targetkan terhadap calon pasangannya. Untuk mendapatkan kriteria sempurna sering sekali selalu melakukan stardarisasi harus siapa, atau seperti apa si pasangan. Dan yang lebih gawatnya, patokan sempurna tersebut dipengaruhi oleh standarisasi gaya hidup, tuntutan sosial. Alangkah baiknya apabila proses standarisasi ini dihilangkan, dan kita lebih melihat kepada hal-hal yang memang dapat terus “hidup” sampai kita menjadi tua. Hal-hal yang memang sangat cocok dengan kepribadian dan karakter, yang akan terus mampu menopang kestabilan hidup secara moril, misalnya perhatian yang diberikan, kemampuan pasangan kita bersosialisasi, intelektualitas, agama, kelancaran komunikasi, kondisi pekerjaan dan finansial, keterbukaan akan seks, kesamaan hobi dan minat,

Fenomena lain yang kini sedang marak adalah sebagian dari generasi muda justru mengalami ketakutan yang mengarah kepada ketidaksiapan mereka secara finansial, dan ketidaksiapan mental. “Gue baru akan married setelah gue punya gaji sekian, setelah gue dapet gelar S2-S3, setelah gue udah punya mobil, setelah gue udah punya rumah, bla…bla…bla… Yahh, kalau ga gitu ntar anak gue mau dikasi makan apa, atau kalau ga gitu ntar kalo misalnya gue cerai ama suami gue ga bisa ngapa-ngapain dong jadi gue musti ngumpulin duit dulu biar gue juga punya tabungan, atau gue married pas umur kepala tiga aja ah supaya mental gue lebih siap gue lebih dewasa ngadepin masalah” pernyataan-pernyataan itu yang sering ada pada mereka. Sementara itu ditengah kesibukan meraih keinginan dan impian, mereka tidak sadar bahwa waktu terus berjalan dan umur mereka terus bertambah.

Saat semua impian sudah dinilai tercapai, akhirnya pernikahan terlaksana saat memasuki kepala tiga. Iya kalau yang di Atas memang langsung mempercayakan untuk ”menitipkan” seorang, atau sukur-sukur lebih dari satu anak, nah kalau tidak...? Belum lagi masa subur yang terbatas, perempuan semakin beresiko melahirkan atau mengandung yang berbahaya pada keselamatan ibu dan janin, dan kondisi sperma laki-laki yang tidak lagi sebagus di umur yang lebih muda. Coba hitung pula berapa umur kita saat anak kita menginjak remaja, dimana umur tersebut sangat rentan dengan pemberontakan-pemberontakan karena pencarian jati diri, apa kita mampu mengimbangi sang anak dengan segala pengertian dan pemahaman terhadap dunia mereka, padahal umur kita sudah terlalu tua untuk sebuah pembaharuan dan pemikiran yang lebih terbuka bila dibandingkan dengan keterbukaan semasa era kita remaja ?

Umur, rezeki adalah sesuatu yang abstrak. Bagaimanapun, apapun, dan kapanpun, kalau memang diberikan pasti akan kita peroleh. Jadi sahabat lamaku, jangan pikirkan mengenai status sosial dan jangan takut dengan kurangnya rezeki yang dititipkan kepada kita, kalau memang ”untuk” kita, maka itulah ”milik” kita.

Kantor Jak Rabu 14 Des 05, 20.08

Monday, October 31, 2005

Friday, October 28, 2005


Sebuah Short Messaging Service dari [...] yang isinya […] masuk ke hp gw sore ini…

DEPKOMINFO: BBM terpaksa dinaikkan, agar subsidi dapat dialihkan dari orang kaya kepada rakyat miskin. Bantu awasi SUBSIDI TUNAI kepada rakyat miskin. Terimakasih. DEPKOMINFO

Donc...sekitar 85% penduduk Indonesia menengah ke bawah serta merta mengernyitkan dahi begitu mendengarkan tarif BBM akan naik lagi, lalu langsung sibuk menghitung-hitung pengeluaran extra yang harus mereka keluarkan lagi. Sisa 25% nya, adalah bos-bos berduit yang kerjanya hanya turun naik mobil mewah, dan punya apartemen selusin, atau rumah seluas lapangan golf. Golongan ini lah yang sama sekali tidak tersentuh dengan naiknya harga BBM.

BBM memang memegang peranan penting dalam kehidupan kita, karena segala macam aktifitas, dari kebutuhan pokok kerosin rumah tangga sampai aktifitas berkendara, memerlukan BBM.

Sehari sebelum presiden kita mengumumkan kenaikan harga BBM, sebuah televisi swasta sempat menayangkan salah satu efek dari pra-kenaikan BBM. Antrian mobil di pompa-pompa bensin sangat panjang, dan terjadi dimana-mana. Menurut berita yang disampaikan televisi swasta tersebut, pihak Pertamina mengurangi pasokan bensin hingga 50%, WOW..!!! bagaimana tidak terjadi antrian-antrian panjang...?! Meskipun Pertamina tidak mengurangi pasokan pun, antrian pasti akan terjadi, karena semua orang langsung berbondong-bondong memborong bensin FULLTankk, mumpung harganya belum naik. Salah satu sahabat saya malah sampai membawa 2 galon aqua kosong untuk diisi bensin! ”Jerigen di rumah gue uda jebol bo, pake galon aqua aja, yang ada di rumah,” jelasnya.

Berkurangnya jumlah bensin di pasaran ini ternyata bukan hanya terjadi karena menurunnya pasokan bensin dari Pertamina, tetapi juga karena penimbunan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung-jawab. Dikutip dari detik.com, bahwa telah terjadi 72 kasus berupa penimbunan BBM, penyimpanan BBM tanpa surat-surat, memperdagangkan BBM tanpa izin, mengangkut BBM tanpa delivery order, dan mengalihkan penjualan BBM yang seharusnya untuk mayarakat kepada pengusaha.

Setelah itu bisa dipastikan akan banyak pabrik dan perusahaan yang melakukan gerakan pengurangan pegawai yang membawa efek bertambahnya jumlah pengangguran dan semakin naiknya grafik kemiskinan.

Harga bahan makanan yang kemudian juga menjadi melambung karena biaya operasional yang naik pada akhrnya pasti ditimpakan kepada konsumen. Apalagi sebentar lagi umat Islam akan merayakan Idul Fitri, yang sudah menjadi tradisi selalu diikuti dengan kenaikan harga sembako. Bisa dibayangkan harga-harga akan naik menjadi semakin berlipat-lipat.

Biaya transportasi angkutan umum yang naik, juga memberatkan masyarakat pengguna yang sebagian besar sudah pasti masyarakat menengah ke bawah.

Plus masyarakat yang tinggal di pelosok-pelosok pedesaan, yang taraf hidupnya memang sudah tergolong miskin, terpaksa mengalihkan penggunaan minyak tanah ke kayu bakar. Bagaimana tidak, minyak tanah yang sebelumnya dapat mereka peroleh dengan harga Rp. 1.400,- naik menjadi Rp. 3.000,- Sementara dengan kayu bakar, mereka bisa memperolehnya dengan gratis di seputar tempat tinggal gubuk mereka.

Kalau dirunut-runut, sejak masa kepemimpinan Megawaty sampai sekarang SBY, harga-harga sering sekali mengalami kenaikan. Usulan kenaikan gaji pegawai juga... walaupun sudah dikabulkan, tetap saja tidak dapat ”mengalahkan” harga yang terus menerus menggelembung. Kalaupun saat ini gaji pegawai kembali akan dinaikkan, tentu waktu kenaikan tersebut masih memakan waktu 3 atau 4 bulan ke depan. Dalam jangka waktu sampai kepada waktu tersebut, mungkin jumlah masyarakat miskin yang mati karena kelaparan sudah terjadi. Subsidi juga akan dilaksanakan pemerintah. Padahal aktifitas ini sama saja percuma. Jumlah orang miskin di Indonesia terlalu banyak untuk bisa disubsidi oleh negara. Akan sampai kapan negara terus memberikan subsidi, padahal dana APBN negara juga sangat terbatas.

*Intermezzo: Heran juga gw, kenapa ya harga naik terus tapi SBY terus saja dicintai.? Padahal, ketika masa Habibie dulu, coba inget deh, dollar sempat menembus sampai angka 6.000 rupiah. Hebat juga kan..? Cuma karena orang-orang tidak suka dengan beliau, yaaa...ga lama kemudian lengser..*

Secara fakta, cadangan minyak dunia memang sudah semakin menipis, mungkin hanya bertahan sampai 2 abad lagi. Sehingga harga minyak di pasar sangat tinggi dan membawa akibat bagi perekonomian semua negara. Dan Indonesia sebenarnya tidak akan terlalu merasakan dampak tersebut, kalau saja negara ini sudah memiliki SDM yang handal. Indonesia termasuk negara penghasil minyak. Sayangnya, untuk mengolahnya menjadi minyak siap pakai, kita terpaksa masih harus mengirimnya ke luar negeri untuk kemudian dibeli kembali setelah menjadi minyak siap pakai. Sehingga ketika harga minyak di pasar dunia melambung kita terpaksa harus ikut terseret membeli dengan harga mahal. Dan jadilah kita seperti ini, satu-satunya negara anggota OPEC yang mengimport minyak.

Selain sumber energi minyak, masih banyak sumber energi yang dihasilkan negara ini. Contohnya saja batubara, yang diperkirakan masih bisa bertahan sampai 2.000 tahun lagi. Dengan teknologi, batubara ini dapat diproses menjadi pengganti bahan bakar minyak. Disamping batubara, sumber alternatif lain yang dapat dikembangkan antara lain energi matahari, energi nuklir, energi angin, dan lain-lain. Pada intinya, sember-sumber energi tadi sebetulnya bisa dijadikan alternatif lain sebagai pengganti bahan bakar minyak. Sebagai pengganti minyak untuk transportasi, misalnya, bisa digunakan Metanol (sejenis alkohol) yang dibuat dari penyulingan gula tebu. Metanol biasanya dipakai untuk menghidupkan mesin-mesin kecil seperti pasa pesawat model, atau mesin-mesin miniatur. Apabila alternatif sumber-sumber tadi dikembangkan, maka rakyat negara ini pasti tidak akan merasakan efek harga minyak dunia yang melambung naik.

*Hayooo ngaku..siapa yang dulu milih SBY..? *

[1okt05]

Thursday, October 13, 2005


mega menelungkupkan badan dan kluarlah muntahan udara cepat yang menimbulkan suara berisik terbahak-bahak. Mmmh… mukanya jadi lucu walaupun sebetulnya tidak. Matahari melebarkan jari dan semua diam. Sunyi. Senyap. Hanya suara gerasak daun kembang melati merah. Lalu warna merah diubah menjadi hijau, dan semua kembali protes, “Huuuuuu…. kan tidak bagus kalau kembang sewarna dengan daun, tidak indah”
Dan bulan pun menyumbang suara,”Tidak masalah, sejauh mata mereka masih awas membedakan mana daun dan mana kembang”.
“Masalahnya adalah apakah kau sendiri mampu membedakannya?”
Bulan mulai membuka rahang lagi, tapi tiba-tiba langit merubah warna menjadi abu-abu, kemudian legam. Mega mengangkat gaunnya ke atas, dan mengencingi mereka dengan air seni kelam. “Ini hadiahku buat mereka”, kata mega.
Semut-semut kelabakan dan lari-lari berteduh mencari tempat kering. Berebutan masuk ke dalam lubang sarang. Daun-daun pohon beringin berputar-putar ingin ikut berteduh tapi tak mampu lepas dari batang pohon.
(Ha..ha..ha..)
Ada suara tawa puas. Aku dengar itu. Gaung suara yang terpental-pental menabrak tinggi gunung dan curam tebing. Aku bawa kepalaku ke kanan, tapi tak ada satu pun makhluk bernafas. Dan ketika ku bawa ke kiri, ppfffhhhh…juga tidak ada tanda-tanda. Lalu apa itu?
Matahari memegang jenggotnya, dan merapikan lentik kumisnya. Ia duduk di atas singgasana, dan termenung. Kepalanya mulai mengangguk-angguk tak tentu, dan dagunya terus terantuk tulang bahu. Tak lama kemudian mendengkur. Nyenyak sekali. Air liur juga sudah mengalir di sisi mulutnya.
Mulai terdengar suara bisik-bisik di dunia atas. Sang raja sedang tertidur. Raja tua namun berkuasa. Penghuni mulai turun satu persatu. Bulan hanya melihat, tapi tak bisa apa-apa. Biar saja nanti kalau sang raja tahu, pasti semua dihukum, minimal penjara seumur hidup, dan maksimal hukum mati dengan cara ditarik dari dua sisi atas-bawah sampai tubuh copot terbelah dua.
Aku bisa dengar langkah penghuni berderap seperti tentara. Menuju planetku. Tapi langkahku berat sekali untuk berlari. Aku harus usaha! Kepala planetku harus tahu, segerombolan perusak sudah datang di sini. Aku tak rela planet tenang ini rusak. Jari kakiku luka, berair, dan mengeluarkan darah. Aku terus lari naik turun bukit dan gunung. Terpeleset, dan berdiri, terpeleset, dan berdiri. Tanah basah dan licin, becek karena air kencing mega. Harus sampai sebelum mereka tiba di tempatku!
Aku disambut dengan wajah bulat bidadari kecilku. Aku tak rela wajah bulat ini mengeluarkan airmata. Aku raih tubuhnya, dan ku bawa berlari menuju kediaman kepala planet. Beberapa penduduk menoleh, dan menghentikan kegiatannya untuk sementara. Mencium ada sesuatu yang tidak beres. Namun mereka mulai beraktifitas lagi.
Dua anak tangga terus ku naiki, sampai pada anak tangga paling atas rumah kepala planet, dan pintu utama langsung aku tabrak. Peluh keringatku menghujani lantai rumah terhormat ini. Kepala planet segera meraih tombak dan menutup tiga matanya mengucap mantra setelah menerima info dariku. Ia menutup hidung di atas kepalanya, menahan nafas, dan meneriakkan sesuatu yang ku tak mengerti apakah itu.
Dan aku tak menyangka, waktu cepat berlalu. Ada alunan lembut yang ku dengar. Burung-burung. Pagi datang.
Kepala planet sangat sakti.
Dan dari kediaman kepala planet bisa ku dengar kembali derap langkah penghuni yang tadi mendekat, kini justru menjauh. Mungkin…
“Dimana yang lain?!”gelegar suara sang surya. “Aku tidur dan yang lain pergi!!!”
Penghuni berebutan naik menuju tempat masing-masing. Yang penting waktu sang surya mulai keliling, tempat tidak kosong. Dan betul, hebat, sang baginda mulai pegang kertas, dan semua penghuni sanggup menjawab seruan pencarian sang surya terhadap status kehadiran mereka. Kemudian baginda mulai menjalankan tugasnya, memuntahkan surya untuk kita yang di bawah.
Nov 04

Thursday, September 29, 2005

urai rambut sang pengais


urai rambut sang pengais lepaskan kancing demi kancing elus lembut munafik perut buncit berbulu sang dermawan perlahan pakaian terlucuti si lentik dan keringat membasahi lantai mengubah malam menjadi siang bulan menjadi matahari kenakan pakaian langkahkan kaki pertontonkan jenjang betis menggunduknya dada halusnya kulit walau ta' begitu indah hitung detik satu dua tiga dan seterusnya

secarik roti lapis merah



rajaku rajaku hilang rajaku hilang diayun hawa gamang rintis jalur asap cerutu hitam diayun hawa gamang rintis jalur asap cerutu hitam tinggalkan nadi balur nyala nuansa malam tinggalkan nadi balur nyala nuansa malam bersama seringai selimut laut perak bersama seringai selimut laut perak salam jauh untuk sang rajaku salam jauh untuk sang rajaku bawakan aku secarik roti lapis merah bawakan aku secarik roti lapis merah jabang bayi kita akan menyeringai bermain dengan secarik roti lapis merah mu jabang bayi kita akan menyeringai bermain dengan secarik roti lapis merah mu menggigit dan mengunyahnya dengan gusi-gusi merah jambu segar tanpa gigi susu menggigit dan mengunyahnya dengan gusi-gusi merah jambu segar tanpa gigi susu sama seperti ibunya
[previous]
mungkin semua harus kembali seperti dulu lagi
saat semua terus berair dan penuh luka
layaknya setitik air dan tak lama terhadap lagi
dengan nyata dunia
tak ada yang bisa aku miliki utuh, tidak hatinya dan tulusnya
dulu ada tangis & raung untuk sebuah kasih yang lengkap hanya untuk ragaku & tanpa ku tahu rencanya Nya matahari mulai mencari menarikku perlahan ke pelukannya
wujud ku terbaring hangat akan sinar lembut melelehkan bekuku & kuserahkan semua harapku pada setitik damba yang semakin hari terus mekar
tapi semua bunga harus layu mengikuti perputaran hidup dunia & tak ada kekuatan tajamnya parang yang dapat menghentikan semuanya
walau sebuah cerita telah dirangkaikan
bekukan kembali hati dan hari ku agar tak lagi kurasakan damba hampa
[next]
semua teriak selamat tertuju kepada sebatang tubuh
masih terbalur aliran awan hitam, lapuk oleh puing
asa, pekat tersedak akan jerit luka menganga
seribu harap hampa yang terjadi mengiang di pernafasan
membawa gelombang laut menuju titik hancurnya
keangkuhan diri
sebuah senandung merdu menyeret tubuh memeluk erat
yakini dunia adalah milik bersama
nada demi nada terjalin pada lajur raga mengalungi
jenjang detik panggil nuansa birahi cinta
dahaga jiwa terhempas semilir percik pelita ditetesi
darah kasihsenyum kunikmati senyum ku cinta
seribu pulau kan ku langkahi untuk memeluk dermaga
yang ia tuangkan di cangkir hati kelam kurasa kucintai dendam kupeluk tubuh & raga ku kulum gairah kutatap pagi menjadi malam tak kan terus bersinar sinari
puing rasadan ku harus kembali teronggok di sudut kubur semua ikrar mu temani nisan yang tertancap manis di tanah merah basah
jiwa mu, aku mengerti
karna aku memang hanya sebatang tubuh membusuk tanpa tonggak
karna hanya tubuh yang mampu menyatu tidak jiwa mu yang bernanah
pergi
dan jangan ganggu aku
rasa,
itu yang jadi bayangan ku sejak embun nafas ku menyentuh langit kepulan asap
satu demi satu kepalan harap datang selimuti nafsu
imingi empat kaki berbalur madu
namun tulus ta’ jua menyapa…entah…mungkin raga nya menyusut ditelan angkuhmungkin juga takut tersandung jurang terjal terpikir tenggelam menyatu dalam batu karang ramu rasa menjadi satu bercampur hujan yang ta’ hentikan jeda irama bulan
gamangkan wajahku sapu bersih semua aroma kecut racun semua hati bualan berbunga
biarkan semua tubuh merayap ikuti ombak laut
menuju pulau kehancuran terpecah dalam keping berserakan di atmosfir ujung jari kaki ku

I
diantara desakan muak kehidupan malam ini ta' ragu…. Pffhhh!!!!
ku bawa sepasang kaki menuju gerombolan kawan-kawanku berdiri, mencari sosok seseorang
aliran darahku naik, dan memenuhi isi kepala
dan ku cari dirinya…suara-suara menjarumi gendang telingaku
dimana kau? hewan-hewan bersayap sudah mulai berkeliling mencumbu tanduk, menggulung dan menuntun menuju sumber angin, dan kau seenaknya saja menghilang!
ah, kau! di sini rupanya! Dan kau peluk diriku! mendadak rasa takut ku hilang…karena pelukan mu?
kini kalungku tinggal sensasi nikmataku melayang, terus ikuti ayunan alur pengaruh hawa di pikiranku
sepasang tangan kekar menjagaku, mengalungkannya di lingkar pinggangku
dan sebuah kepala menyandar di dadanya, kepala kurasa hangat mengalir, sebuah bunga kering tiba-tiba tersenyum
daunnya hidup, memenuhi batang dan ranting,
lengkap dengan ulat-ulat hijau yang gemuk-gemuk
seirama kami melangkah mengikuti desakan keinginan bawah sadar kami
pelan ku arahkan tangan ku, ku genggam rambutmu, basah oleh keringatmu
MPpFhH…
air tubuh terus keluar dari pori-pori tubuh kami
sebuah ketergantungan menggelayut
II
dan terus berputar hingga putaran matahari dan bulan
Aku jatuh cinta… ?!
sebuah mimpi
III
bagaimana kekasihku? Aku merindukanmu, Kau..?
[lebih kuat dari masa dulu, Kau..?]
IV
dari kejauhan wajah bulatnya tersenyum menatap langkah ku menuju permadani berpijak
menanti ku hampir ta’ mengenali aku….?
Ya, karena ada oksigen baru di darah ku dikelilingi sinar bahagia,
atau hanya karena styling baru kuaku cantik katamnya… dan sinar sayang juga berkomunikasi dari aura mata
sebuah palu godam menghantamku keluar atmosfer bumi
aku bersalah atas sesuatu yang ta’ ku persilahkan bertamu
…)

Rasanya wajar saja ketika seorang manusia memulai dan kemudian menjadi terus-menerus mempertanyakan siapa pasangan jiwanya yang akan mendampingi sepanjang sisa hidupnya kelak. Hanyalah berprofesi sebagai manusia, yang menurut kepercayaan bahwa semua dan setiap takdirnya adalah Tuhan yang menentukan, maka yang kuasa ia lakukan adalah memang hanya menjalani apa yang ada di hadapannya dan hanya menunggu detik-detik waktu yang terasa demikian lambat berjalan namun begitu meraja dalam menentukan jalan hidupnya, indah ataupun buruk.
Dan pernahkan manusia membayangkan apa jadinya sebongkah tanah luas nan indah yang merupakan tempat berteduh ini menjadi sebuah neraka ketika semua manusia menjadi tersiksa karena diserbu pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh serangkaian waktu yang merayap maju lambat tanpa sebuah kepastian.
Aku, adalah bagian dari kelompok yang hanya diwajibkan dan yang hanya mampu untuk menelusuri lorong hitam panjang tanpa ujung akhir kepastian tanpa kemampuan untuk meraba apalagi untuk mengetahui sebuah titik hitam atau putih yang menunggunya di ujung sebuah penantian. Kemudian aku menjadi semakin resah dan gundah karena semua itu. Semakin hari seiring dengan detik-detik waktu yang terus menggiring kehidupanku, kali itu aku menjadi gila, dan terus-menerus semakin gila, atas keinginan untuk berlari mencari lalu mengejar demi mengetahui warna akhir titik penantianku, yang kemudian tanpa aku dapat kendalikan tiba-tiba saja keinginan itu berubah menjadi sebuah teriakan petir menggelegar yang tak pernah bisa bahkan tak akan pernah kumiliki sebuah kesaktian untuk ku memamerkannya: hasrat kuat ku itu kepada dunia; semua hanya terendam dalam perpaduan lemahnya tubuhku, ringkihnya kemampuanku namun kuatnya birahi ku sebagai seorang manusia.
Sebuah senyum sedih penuh ketidakpastian dan ketidakmampuan pun menghias di wajahku, karena hingga saat ini kursi terbaik yang aku siapkan di pusat kehidupan tubuh ku, bahkan entah sampai kapan dan mungkin untuk seterusnya, tidak juga terisi. Mungkin lebih baik aku bangkit dari singgasana ku dan meninggalkan pasangan hampaku itu untuk selamanya karena kelelahan yang menjamur telah menjadi karat pedas di dalam hatiku.
Maka serta merta semua manusia hanya akan menyeringai iba, tersenyum, bahkan tertawa sinis, menyaksikan kegilaanku, mungkin karena tidak merasakan atau bahkan mungkin karena tidak akan pernah mengalami apa yang saat ini sedang aku geluti. Karena duniaku yang tercinta ini terdiri atas banyak bongkahan daging yang setiap bongkahnya memiliki keinginan dan warna kehidupan yang masing-masing berbeda.
Saat ini, setelah kegilaanku yang terus-menerus merongrong kehidupanku, lambat laun kurasakan kemunculan sebuah rasa, atas ketidakadilan terhadap jatah yang dunia berikan kepada masing-masing insane bernafas, yang mulai menyesakkan dadaku. Ketidakadilan yang menghasilkan sebuah pertanyaan, bahwa, bila sedikitnya sebagai manusia aku tidak berhak untuk mengetahui siapa ia, lalu apakah aku tidak cukup layak untuk sediki merabanya demi mengira-ngira, seperti yang sedang dan seperti yang telah dirasakan oleh manusia-manusia yang berkeliaran di sekelilingku…??? Yang aku temukan selama ini hanyalah melimpahnya harapan-harapan kosong yang tidak pernah terwujud, kesakitan-kesakitan yang entah sampai kapan masih terasa menusuk, bayangan-bayangan hitam yang terus melekat di seluruh lapisan kulit tubuh ku, sebuah malam yang tidak pernah aku temukan di dalamnya setetes embun pun dan tembok-tembok tebal yang demikian sulit untuk aku tembus.Maka, walaupun penuh kewajaran ketika seorang manusia yang lemah berkhayal tentang seorang pasangan jiwa, namun aku, jangankan berkhayal tentang seorang pasangan jiwa masa depan, bahkan untuk saat ini pun, aku tak pernah mendapatkan jatah indah sebuah belaian kasih dari seorang pangeran seperti kisah-kisah di dalam dongeng, layaknya jatah yang telah digenggam oleh manusia-manusia lainnya. Aku hanya terus bergabung dalam barisan panjang yang rapih dan harus senantiasa patuh dalam antrian panjang yang terus maju untuk memperoleh tiket menuju ujung lorong penantian karena aku adalah kerikil halus yang merupakan bagian dari kelompok yang hanya berhak untuk menggantungkan harapan dan keinginan pada waktu serta pada yang telah digariskan oleh apa yang disebut dengan nasib atau takdir. Yang aku semai kemudian, sebuah hasil sempurna bernilai point 100 atas kepatuhan terhadap waktu dan kepatuhan terhadap takdir, yaitu seuntai tali tebal kuat yang merantai kedua pergelangan kakiku, sementara manusia yang lain berderap maju.Siapa yang harus aku hukum karena kesalahan: waktu yang terasa demikian lambat berputar; takdir yang demikian gelap untuk diriku; ataukah bahkan diriku sendiri yang telah demikian dahaga, lelah, bosan dan perih pada sebuah penantian berkawan luka tanpa gerbang cahaya keemasan…??
Namun, terlalu berlebihankah atau bahkan tidak; atau terlalu salahkan atau bahkan tidak; serta terlalu wajarkah atau bahkan tidak, bahwa entah karena sebuah rasa optimis atau hanyalah karena sebuah kelelahan akan air mata yang kemudia berbunga menjadi setangkai mawar keputus asaan, bahwa saat ini aku masih berani berharap lalu bermimpi tentang sebuah raut wajah dan sebuah genggaman kuat namun lembut penuh kasih cinta yang mungkin akan aku miliki seperti halnya manusia lainnya. Untuk saat ini dan saat nanti…
Aku tak tahu, Kawan…..
[sebuah jawaban untuk seorang sahabat: APAKAH HIDUP HANYA UNTUK MENANTI KASIH SEJATI ???]
Apa kabar.?
rasanya memang seperti ini..aku sudah lama kenal kau. walaupun sudah lelah namun kembali lagi. Selamat datang! Benteng yang sudah tegak lalu runtuh lagi. Berkeping, menusuk setiap kaki yang melangkah, mengalirkan darah segar, membuat nanah dan membaui semua lalat-lalat pamangsa bangkai. Teriakan pun ta’ mampu menyatukan matahari dengan bulan. Hanya ada angin yang berhembus dan tertawa membahak. Lalu mendung yang menyumbangkan petir.
Berlari dan berjalan, pelan, cepat, terburu-buru
uraian rambut menyelimuti hati, bergerak pelan mengikuti irama langkah kaki, kadang setiap helainya memisahkan diri dari kelompoknya karena sapaan angin nasib dan polusi takdirterus melangkah menemani embun-embun yang menitik pada sepasang pipi
embunnya yang menitik...apakah hatimu juga dipenuhi embun, seperti selimut tebal yang selalu menutupinya merenungi kehidupan hari tadi, dan lalu...hanya ada penutup pilu yang membungkus hati dan keinginannya, rasa rindunya..sudah lama ta’ hadir rasa itu. Tatap mata dan semua ternyata hanya kebohongan. Hanya ragu dan harus terbukti. Sudah. Ya, aku ingat. Terimakasih atas cinta busukmu.
Jak kantor 7sep 20.06
telah dua puluh enam tahun kutatap waktu berputar,matahari yang bersilau terik membakar segalanya,
juga bulan yang berkawan sungai perak membanjiri dunia akan kesunyian dan kepiluan
airmata Sang Penguasa yang meludahi tanah pijakan
pelangi yang menampakkan senyum hangat di wajah biru
bernyanyi bersama makhluk-makhluk bersayap
dua puluh enam tahun pula semua berputar mengelilingiku
terus berputar berganti posisi,
saling mempersilahkan pada masing-masing untuk mencicipi nikmat kehidupan dan bersahabat dengan ketentraman jiwa
tapi tidak nasib dan takdir ku …seonggok mayat hidup ta’ mampu bergerak
sepasang bola mata mati tak beraliran semangat
potongan daging tinggi yang hanya mampu menghirup udara panas kebencian
dua daun telinga yang dikunci rapat karat mendesis
sepuluh batang daging lengan tak berfungsi
sepasang kaki yang terantai kuat
hati hitam dicekoki kekecewaan
otak dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tanpa keberadaan jawaban
terbuang
dicampakkan
sendiri menangis di sudut ruangan kehidupan
ta’ kuceritakan pada siapa pun
ku simpan harta karun kehidupan
sumber mata air bagi nafas kukeinginan untuk bebas berbahagia memiliki cinta
itulah aku … !
Jakarta, 15 oktober 2002 jam 12.39 pagi
Sadarkah kalian kutukan yang melekat kuat pada kehidupan
Tentang arti sebuah cinta
Telah kualami semuanya
Berulang kali ku berada dalam cengkeraman kata cinta
Namun tak pernah ku rasakan sebuah indah dalam cawan manis
Ku habiskan waktu untuk lebih mengerti tentang itu semua, namun tak pernah ku temukan jawabannya
Tidak ada seorang yang mengatakan semua kepadaku
Seperti kini ku bercerita kepada dunia
Cinta tidak seindah kelihatannya
Tidak ada senyum hanya air mata
Dikelilingi oleh tangis bayi kecil, dan seorang suami yang harus dilayani setiap malam
Itulah cinta
Arti sesungguhnya dari keindahan surga kasih yang selama ini digambarkan
Tidak ada sebuah kecupan hangat di bawah sinar bulan purnama
Tidak ada sebuah pelukan mesra dinaungi hamparan lautan perak langit malam
Yang tersisa hanya sebuah kepedihan

La rivière argent

Je suis en train de s’asseoir,
rêver,
se taisse seuleument,
sans parole,
sans avoir de puissance pour s’arrêterle sentiment qui avait brulé …
Le feu dans mon coeur brule ancore,qui chauffe le ciel bleu,
puis devient noir …
n’éteint pas
depuislong temps,
jamais ..et
la plaie ne recurire pas encore,
jamais …
Le sang coule,
ferme les oses,
comme une courant d’une rivière,
et on ne peut pas indiquer…
Il y a encore la peine,
il y a encore l’odeur rance,
quand ton couteau noir poignarde mon Coeur,
la plaie, le sang,
et le pus ne sechent jamais …
La rivière argent,
qu’est-ce que je dois faire ?
Je peux seuleument lever les yeux,
ne peut pas tuer,
n’a pas la puissance,
le sentiment qui est plus fortet là, j’entend un rire,
très fort,
est-ce qu’il s’agit de moi ?
Une chanson qu’il avait chanté pour moi,
une épée qui me fait être blessuré …
et quand le Coeur devient rouge,
il marche sans regarder en arrière …
La rivière argent,
au secour …
m’emprunte ton brillant un instant,
puisque cette plaie guérisse,
m’arrose ta calme un instant,
puis que le feu dans mon Coeur éteigne …
jak rabu 4 sept 2002 jam 2.04 siang

Selasa dua puluh delapan september dua ribu dua sore empat tiga lima ku tatap langkah nya merayap menuju tempat ku mematung. Ku lihat senyum di lukisan alam wajah nya, dan sebaris sapa terlontar menuju diri ku, delapan bulan tanpa tatap muka. Ada gejolak rindu yang sangat kuat ku rasakan untuk sang kekasih hati ku. Tak kuasa memalingkan mata ku lempar jawab tanpa kejujuran, dan tak tahan pula menahan luapan pertanyaan yang telah bergelantungan di tenggorokan, ku tarik sosok nya mendekat bertumpu pada keangkuhan tembok tinggi panjang kekar.
Berdiam diri ia menatap diri ku tanpa kuasa mengeluarkan penjelasan yang ku mohon. Tanpa kehadiran sang pengertian sahabat terbaik selama menjadi kekasih nya, tanpa henti ku muntahkan pertanyaan tanpa jawaban panjang namun sulit bagi kekasih ku. Ku rasakan desiran usaha lelaki ku untuk memohon maaf dari ikatan rasa bersalah yang sedang ku kalungkan di tubuh nya. Dan seperti seorang pemburu biadab, tak kulepaskan buruan yang mulai masuk dalam perangkap. Sedikit demi sedikit hati ku mulai menangis, lagi, seperti yang selalu terjadi. Lelaki ku tidak bisa memuaskan dahaga pertanyaan percintaan ku. Ku dengar diri ku menjerit memohon keadilan. Tidak kah terpikir oleh tambatan hati ku, aku terus terseok selama ini menunggu cinta nya menyelubungi jiwa ku ?
Sebaris maaf berhamburan dari sepasang gelambir sang raja hati ku. Sedikit demi sedikit ku rasakan semilir rasa bersalah yang mengalir mengiringi perputaran udara di sekeliling kami berdua berdiri saling bertatapan. Sepasang penglihatannya tegak menelanjangi wujud ku, namun ku coba melawan arus ombak berbadai pejantan ku yang membasahi diriku sedari tadi, aku gagal. Lalu ku arahkan pandangan mata ku menuju lantai ubin trotoar kami berpijak.Di akhir penantian selama menjadi wanita nya ku dengar seuntai kata-kata perubah kehidupan ku, bukan kehidupan nya. Seperti yang telah menaungi ku selama ini. Lalu semuanya berakhir.
Ku paksa kaki ku meninggalkan diri nya, dan semua kenangan yang telah ia balurkan di setiap relung hati ku.
Setangkai keabadian bunga kekecewaan. Hanya itu yang terangkai, selain permainan kata-kata yang telah meniduri ku selama ini. Dan memang ia lah sahabat sejati ku, beriring air mata dan rasa sakit. Selamanya…..
Rabu 30 september 2002 jam 00.21 pagi, jkt

Libère de tous

Je ne oublierai jamais,
ces yeux,
plein de jalousies,
comblé de chagrin …
Jamais oublierai,
ces yeux,
que je ne sais jamais
dans le Coeur profond j’étais blessé …
Je veux revenir à ma rue,
ma rue passé ,
sans douleur
Je vais jeter toutes malheureuses !
Je vais jeter mon Coeur blésse !
bien qu’ils croient ce ne finira jamais
J’ai fait les efforts pour comprendre
tous ces questions
de ce que je sentais
bien qu’il n’y avait pas de vagues
jusqu’à un jour tu m’ai aimé
Libère moi !Libère de tous des chagrins
Jamais me préviens de voler
suivre la nuit et le matin
Il y a encore beaucoup d’espoir
pour moi …pour moi …pour moi …
jak rabu 4 sept 2002 jam 2.21 siang

tanpa nama


Jam ini mendung
Ada awan hitam menaungi
Berjalan terseok memayungi gedung busukku
Satu lagi jendela akan retak mengikuti kaca renta lainnya
Dan…. Prang!!
Tengok, dan bingkainya ternyata sudah hancur
Bingkai kaca, mengelilingi kaca
Kini dia gundah ta’ ada baut
Dan mengikuti angin yang meniup dengan seenak perutnya
Sesuka hati
Satu detik, dua detik, tiga detik
Dan…. Prang!!!!!!
Dia berkeping juga akhirnya
Anak-anak kecil berlari berlomba
Berebutan memungut tubuh kaca
Satu, dan dipecahkan lagi, menjadi pasir
Diikuti saudara-saudaranya
Terinjak langkah
Dan…. Whuzzsss!!!!
Kini dia terbang menyatu bersama angin
Tanpa nama
Jak, 27 jan 05, 15.07
(quand ton couteau poignarde mon Coeur, dans le Coeur profond j’etais blessee)

menu utama restoran

Seperti sebuah papan dengan bujur sangkar hitam dan putih berselang letak, putih dikelilingi hitam dan hitam diputari putih
“Jalani saja karena sang ujung akan menampilkan wajahnya…”
tapi aku ingin ada kelabu, saat hitam bisa kuubah menjadi tidak hitam, dan putih kusihir bukan putih.
“Memangnya siapa kau? Pencipta dunia?”
“Aku penghuni! Tapi tidak ada hukuman pancung kan bagi penolak fakta???”
“Memang tidak ada, tapi tangga ke langit ke delapan tidak pernah terbaca di menu sajian. Hanya ada steak langit pertama, sampai french fries langit ketujuh. Jangan mimpi!”
“Fine! Kalau begitu aku mau orange jus kelima ku diganti menjadi udang rebus ketiga! Tapi karena aku tidak mau mati karena alergi seafood, sediakan juga tablet penolaknya!”
“Kau bukan Pemilik! Lebih baik hengkang, dan bawa semua milikmu sebelum security menyeretmu dengan gigi-gigi tajam herdernya!”
Aku tidak pernah salah karena menyayangimu sejak dulu namun terlalu sombong untuk mengakuinya, sampai sekarang! Aku tidak pernah salah karena sekarang sudah ada sebongkah daging leleh yang melumuri aku dengan minyak miliknya dan janjiku. Sekarang terlalu banyak daun kering yang siap menguliti aku bila kumohon angin malam bertiup hanya untuk kasih lalu dan kini milikku. Yang salah adalah mengapa aku harus menjadi diriku! Lemparkan untukku sebuah dadu dan mungkinkah sisi tanpa angka yang tersenyum???
Jak 26 april 05, 23.00

tulang anjing geladak

tulang
aku hanya punya satu ruang sempit temaram namun tulus dan kesesakan itu harus mampu kuberi untuk dua makhluk tercintaku
ANJING
aliran listrik sudah ta’ mampu lagi mengganti bola lampu redup yang kian hari semakin gulita. dinding gelap mengalirkan air mata, menjerit-jerit memutuskan tali gendang telinga, membungkuk membuat tetesan ingus menjadi ombak. hidung semakin tegak, dan mata mengeluarkan gemerutuk mengiringi bibir yang semakin menipis menjadi satu dalam dau dan pipi
geladak
pintu terketuk dan lantai menjawab, “Aku tahu jendela menutup kacanya rapat-rapat, tapi apa bisaku? Bahkan menggeser alas kaki welcome pun aku ta’ mampu. Katakan saja dambamu ke atap yang mentereng gagah, ia mampu melindungimu dari seringai matahari dan peluk beku laut perak. Aku ta’ mampu! Tapi walaupun begitu kau ta’ kan bisa pergi, karena sang atap meludahimu! Seperti anjing geladak yang melumuri tulang dengan air liur!”kami lalu memejamkan mata dalam gundukan dengan nisan bertuliskan peristirahatan terakhiraku hanya punya satu ruang sempit temaram namun tulus dan kesesakan itu harus mampu kuberi untuk dua makhluk tercintaku: sepotong tulang untuk dua ekor anjing geladak.
Jakarta Kamis 14 April 2005, 22.19

gaun pengantin warna hitam

Kali ini ku kecup lagi sekuntum kembang kelelahan pada rasa dan seperti biasa aku ta’ punya kuasa untuk menahan
Merangkak menjamah tapak yang ta’ akan pernah kembali dalam pelukan
Awan kelelahan meneteskan air liur, menggenangi gaun kebersamaan karena cinta sejati yang hampir mencapai takdir
Alangkah bahagianya mereka yang mampu merangkai dan memakainya…
Lembar gaun terkoyak digerogoti detik-detik karat, menyumbang jeritan menyisakan kapas-kapas busuk
Puing-puing gaun kita tergenggam dalam kepalan jari-jari…lalu menyelinap, melayang dan menyatu bersama hembusan tatapan angin tanpa daya, hangus karena sinar matahari dan membeku dicengkeram kuku malam
Aroma pedih merebak menyibak tirai tanduk terkuat
Yakinkan aku memang ta’ ada cinta sejati terwujud
jakartasabtusembilanbelasebruariduaribulimatujuhmalamlewatsepuluhmenit

teh manis, teh susu, dan teh kopi...

aku kosong tanpa buih dan ombak itu meleburkan debu halus hidupku semuanya menyatu dalam cawan membentuk secangkir teh manis hangat semakin ku minum semakin nikmat dan semakin haus aku meneguk menghapus haus kerongkongan keringku… hmmm, teh susu? sehat tapi aneh Dan betul aku sehat, wal’afiat..apalagi setelah ku berkenalan dengan teh kopi, sekali minum bikin ketagihan pengen lagi pengen lagi dan pengen terus..tapi lama-lama uluhatiku menuntut, tiap hari ada balon di situ..semua gara-gara teh kopi. dengan keharusan yang ragu ku bilang aku sekarang punya balon, dan kamu jawab, “Ayo ke dokter, supaya balon kamu itu sembuh!”
aku tidak suka, tapi aku cinta dengan teh kopi dan balon ku ini…seandainya dulu aku hanya minum teh susu, pasti aku sekarang makin sehat dan kuat menjalankan semua aktifitas ku sehari-hari…

telor ato Ayam...???


Melepaskan penat setelah melakukan aktifitas seharian di luar rumah, atau ga tahu musti melakukan apa di akhir minggu, jawabannya adalah memegang remote control dan duduk di depan pesawat televisi mencari-cari acara yang disukai. Hiburan murah yang tidak mengeluarkan duit sepeserpun, dibandingkan dengan beli atau sewa vcd, atau pergi ke mall buat nonton atau shopping. Tetapi belum juga 5 menit tenggelam di acara favorit, kita sudah disuguhi iklan. Iklan apa pun itu. Iklan obat pusing, iklan sabun cuci, iklan kompor, iklan rokok, iklan obat kuat, iklan sepatu, sampai iklan pemilihan presiden, iklan layanan masyarakat dan iklan sinetron. Tangan kita lalu meraih remote, dan siap memindahkannya ke channel lain. Tapi lagi-lagi yang kita temukan adalah barisan iklan. Sepertinya mereka sudah punya perjanjian bahwa di jam-jam kesekian, menit-menit kesekian, dan di detik-detik kesekian mereka akan memuntahkan iklan. Setelah itu, baru acara kuis, sinetron, atau film-film India dilanjutkan secara bersamaan… Politik siap tempur pertelevisian untuk berlomba-lomba pamer kebolehan acara mereka…

Memang tidak ada yang bisa disalahkan, karena televisi tidak bisa dipisahkan dari iklan, dan iklan tidak bisa dipisahkan dari televisi. Saling bergantung dan saling menguntungkan secara ekonomi… Sama seperti saya, saya butuh televisi untuk ditonton acaranya, untuk hiburan gratis, walaupun sebenarnya tidak gratis total karena nonton tv juga butuh listrik, tapi at least gratis lah dibandingkan rentetan aktifitas di atas tadi… Televisi juga butuh saya, sebagai pemirsa, sebagai orang yang menyukai acaranya, untuk menambah-nambah jumlah ratting mereka, dan pada akhirnya duduk diam: nonton.. Lalu supaya semua insan terpenuhi kebutuhannya, terjadilah pemanfaatan moment, diselipkanlah iklan-iklan. Lalu permasalahannya apa..?

Bombardir iklan. Cukup duduk, jangan pindah channel waktu ada iklan, dan amati.

Masih ingat adegan iklan salah satu rokok, dimana seorang pegawai restoran yang sambil membuat adonan terbayang sedang memijat punggung seorang perempuan seksi di pinggir pantai? Iklan ini sempat mengundang kritikan ketika itu. Bagaimana tidak, iklan rokok ini sebenarnya kreatif, tapi sayang telah mendukung eksistensi laki-laki, dan menjadikan perempuan sebagai obyek seks. Saking gilanya pengaruh rasa nikmat yang bisa ditimbulkan rokok tersebut, sampai-sampai mampu membuat si pekerja restoran itu mengkhayal sedang mengulas tubuh perempuan, padahal sebetulnya adonan kue yang sedang digilasnya.

Cerita iklan shampoo. Dua perempuan bertemu dengan seorang teman perempuan yang sudah lama tidak bertemu, di sebuah counter pakaian sebuah mall. Perempuan yang satu ini sekarang cantik, rambutnya hitam, panjang dan indah terawat. “Belum punya anak sih, jadi punya waktu deh…” Kalimat itu yang terlontar karena mereka terpana menyaksikan satu temannya ini menjadi cantik. Lalu muncul seorang anak perempuan kecil yang ternyata anak perempuan cantik tersebut. Lalu sosok perempuan muda yang digambarkan sedang sedih karena teman laki-lakinya lebih tertarik pada perempuan lain yang kulitnya lebih putih pada iklan pelembab yang mengandung whitening. Selain menekan-nekankan soal kulit putih, iklan ini juga menekankan bahwa usaha mendapatkan kulit putih adalah untuk menyenangkan laki-laki. Citra yang muncul, perempuan yang cantik adalah perempuan berkulit putih, berambut hitam dan panjang. Perempuan seperti inilah yang akan selalu mendapat tempat eksklusif di mata para pria, bahkan masyarakat. Perempuan diharapkan mampu tampil menawan, berkarakter lembut, berkulit halus, pandai mengurus rumah tangga, memasak, mengurus anak, dan selalu mampu tampil prima untuk menyenangkan suami.

Ada juga iklan rapet kewanitaan. Gambaran sepasang pengantin yang baru menikah. Si pengantin perempuan disarankan memakai salah satu produk rapet kewanitaan, supaya rumah tangga terus bahagia. Di sini citra perempuan sebagai pemuas laki-laki sangat terasa. Tanggung jawab kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga sepenuhnya di pundak istri. Kalau sang suami menyeleweng, maka yang salah adalah si istri karena tidak bisa memuaskan di ranjang. Padahal ga juga kan?! Kalau suaminya memang mata keranjang dan doyan perempuan, ya ada aja tuh w.i.l. alias wanita idaman lain…

Seorang ibu muda yang kebingungan ketika anaknya sedang sakit batuk. Sang nenek sebagai tokoh penyelamat sampai datang walaupun malam itu sedang hujan. Memandang anak perempuannya dengan mata sebal, menyalahkan seakan-akan anak perempuannya ini tidak becus mengurus anak yang sebenarnya hanya sakit ringan: sakit batuk. Lagi-lagi memunculkan gambaran masyarakat bahwa hanya perempuan yang punya peran mengurus anak sakit. Perempuan menindas perempuan. Sang nenek disini sebagai wakil masyarakat, dan sang ibu sebagai wakil perempuan dalam komunitas masyarakat.

Lagi, iklan sebuah multivitamin. Si ibu pulang kerja, kelelahan karena aktivitas kantor yang menyita waktu dan tenaga. Sampai di rumah sudah tidak punya tenaga lagi mengurus rumah, anak, dan suami. Citra perempuan adalah pilar rumah tangga. Ia harus juga menjalankan tugas tradisional, walaupun sudah seharian punya keinginan wajar yaitu mewujudkan impian karirnya, atau keinginan mulia membantu sang suami memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Lagi-lagi perempuan harus menjadi super women. Serba bisa. Boleh punya impian karir setinggi langit, tapi tetap harus mengurus rumah juga. Tidak ada pembagian tugas yang adil dalam perkawinan.

Iklan sabun cuci yang selalu menggunakan perempuan sebagai tokoh utamanya. Iklan minyak goreng, iklan kompor yang selalu meletakkan perempuan selalu ada di dapur dan sangat akrab dengan tugas-tugas domestik. Iklan rokok yang selalu menampilkan laki-laki sebagai pejantan tangguh penikmat tembakau tersebut, padahal dari dulu juga tidak terhitung banyaknya perempuan yang termasuk dalam golongan penikmat asap, apalagi di dunia modern seperti sekarang ini…

Citra-citra iklan seperti itulah yang sering dilayangkan ke hadapan kita, bahwa semua iklan yang berhubungan dengan memasak, mengurus anak, rumah dan segala printilannya, menggunakan perempuan (istri) sebagai pelaku utama. Bila mau sukses perempuan harus selalu tampil cantik dan muda. Cuma perempuan yang punya tugas mengurus segala tetek bengek rumah tangga. Perempuan harus berupaya untuk cantik dan sehat untuk memperoleh persetujuan atau perhatian laki-laki dan masyarakat. Perempuan juga dicitrakan tidak menawan bila tidak menggunakan produk kecantikan, tidak tampil muda, tidak berkulit putih, tidak lembut, dan tidak langsing.

Citra laki-laki adalah jantan, kuat perkasa, pencari nafkah, pelindung, atau sebagai atasan.

Satu lagi, yang sering saya dengar dari nasehat nenek-kakek, saya tahu dari cerita-cerita jaman dahulu, atau saya baca dari karya-karya sastra era Sitti Nurbaya: setinggi-tingginya perempuan terbang, jatuhnya ya ke dapur (walaupun kalau jaman sekarang dapurnya bukan seperti dapur jaman nenek saya dulu, dapur modern dengan segala fasilitas, microwave, kulkas keren, tapi tetep aja judulnya ya dapur). Stereotip lama yang ternyata masih sukses hidup sampai abad ini…

Mau tidak mau, iklan memang tidak lepas dari konteks budaya masyarakatnya sendiri, terbentuk dari stereotip, pola pikir dan cara memandang masyarakat pada suatu hal. Bila itu memang terbukti benar adanya, ya maka memang seperti itulah citra perempuan di mata masyarakat (walaupun iklan cenderung melebih-lebihkan realitas). Dalam persaingan dagang yang terus-menerus ketat, bukan ga mungkin citra tersebut selalu digunakan untuk merangsang konsumen. Lalu? Semuanya kembali lagi kepada kita semua untuk bisa bersikap lebih kritis… Apakah mungkin stereotip bisa diubah, dan sebuah kerinduan para perempuan dapat diwujudkan menjadi penilaian dan penempatan sesuai dengan “prestasi” dan kapasitasnya sebagai manusia? Lalu mana dong yang harus dirubah lebih dulu, stereotip di masyarakat, ataukah citra di iklan…? Jawabannya sama sulitnya, ketika kita harus menjawab pertanyaan: Mana yang lebih dulu ada, telor ato ayam…???
(Shinta Larasati di Jakarta 15 Des 2004 20:20)