Avoir Froid De La Solitude De La Vie

J'ai trois fenetres ma chambre, l'amout, la mer, la mort, et toi...?

Thursday, September 29, 2005

[previous]
mungkin semua harus kembali seperti dulu lagi
saat semua terus berair dan penuh luka
layaknya setitik air dan tak lama terhadap lagi
dengan nyata dunia
tak ada yang bisa aku miliki utuh, tidak hatinya dan tulusnya
dulu ada tangis & raung untuk sebuah kasih yang lengkap hanya untuk ragaku & tanpa ku tahu rencanya Nya matahari mulai mencari menarikku perlahan ke pelukannya
wujud ku terbaring hangat akan sinar lembut melelehkan bekuku & kuserahkan semua harapku pada setitik damba yang semakin hari terus mekar
tapi semua bunga harus layu mengikuti perputaran hidup dunia & tak ada kekuatan tajamnya parang yang dapat menghentikan semuanya
walau sebuah cerita telah dirangkaikan
bekukan kembali hati dan hari ku agar tak lagi kurasakan damba hampa
[next]
semua teriak selamat tertuju kepada sebatang tubuh
masih terbalur aliran awan hitam, lapuk oleh puing
asa, pekat tersedak akan jerit luka menganga
seribu harap hampa yang terjadi mengiang di pernafasan
membawa gelombang laut menuju titik hancurnya
keangkuhan diri
sebuah senandung merdu menyeret tubuh memeluk erat
yakini dunia adalah milik bersama
nada demi nada terjalin pada lajur raga mengalungi
jenjang detik panggil nuansa birahi cinta
dahaga jiwa terhempas semilir percik pelita ditetesi
darah kasihsenyum kunikmati senyum ku cinta
seribu pulau kan ku langkahi untuk memeluk dermaga
yang ia tuangkan di cangkir hati kelam kurasa kucintai dendam kupeluk tubuh & raga ku kulum gairah kutatap pagi menjadi malam tak kan terus bersinar sinari
puing rasadan ku harus kembali teronggok di sudut kubur semua ikrar mu temani nisan yang tertancap manis di tanah merah basah
jiwa mu, aku mengerti
karna aku memang hanya sebatang tubuh membusuk tanpa tonggak
karna hanya tubuh yang mampu menyatu tidak jiwa mu yang bernanah
pergi
dan jangan ganggu aku

0 Comments:

Post a Comment

<< Home