Avoir Froid De La Solitude De La Vie

J'ai trois fenetres ma chambre, l'amout, la mer, la mort, et toi...?

Thursday, September 29, 2005


Selasa dua puluh delapan september dua ribu dua sore empat tiga lima ku tatap langkah nya merayap menuju tempat ku mematung. Ku lihat senyum di lukisan alam wajah nya, dan sebaris sapa terlontar menuju diri ku, delapan bulan tanpa tatap muka. Ada gejolak rindu yang sangat kuat ku rasakan untuk sang kekasih hati ku. Tak kuasa memalingkan mata ku lempar jawab tanpa kejujuran, dan tak tahan pula menahan luapan pertanyaan yang telah bergelantungan di tenggorokan, ku tarik sosok nya mendekat bertumpu pada keangkuhan tembok tinggi panjang kekar.
Berdiam diri ia menatap diri ku tanpa kuasa mengeluarkan penjelasan yang ku mohon. Tanpa kehadiran sang pengertian sahabat terbaik selama menjadi kekasih nya, tanpa henti ku muntahkan pertanyaan tanpa jawaban panjang namun sulit bagi kekasih ku. Ku rasakan desiran usaha lelaki ku untuk memohon maaf dari ikatan rasa bersalah yang sedang ku kalungkan di tubuh nya. Dan seperti seorang pemburu biadab, tak kulepaskan buruan yang mulai masuk dalam perangkap. Sedikit demi sedikit hati ku mulai menangis, lagi, seperti yang selalu terjadi. Lelaki ku tidak bisa memuaskan dahaga pertanyaan percintaan ku. Ku dengar diri ku menjerit memohon keadilan. Tidak kah terpikir oleh tambatan hati ku, aku terus terseok selama ini menunggu cinta nya menyelubungi jiwa ku ?
Sebaris maaf berhamburan dari sepasang gelambir sang raja hati ku. Sedikit demi sedikit ku rasakan semilir rasa bersalah yang mengalir mengiringi perputaran udara di sekeliling kami berdua berdiri saling bertatapan. Sepasang penglihatannya tegak menelanjangi wujud ku, namun ku coba melawan arus ombak berbadai pejantan ku yang membasahi diriku sedari tadi, aku gagal. Lalu ku arahkan pandangan mata ku menuju lantai ubin trotoar kami berpijak.Di akhir penantian selama menjadi wanita nya ku dengar seuntai kata-kata perubah kehidupan ku, bukan kehidupan nya. Seperti yang telah menaungi ku selama ini. Lalu semuanya berakhir.
Ku paksa kaki ku meninggalkan diri nya, dan semua kenangan yang telah ia balurkan di setiap relung hati ku.
Setangkai keabadian bunga kekecewaan. Hanya itu yang terangkai, selain permainan kata-kata yang telah meniduri ku selama ini. Dan memang ia lah sahabat sejati ku, beriring air mata dan rasa sakit. Selamanya…..
Rabu 30 september 2002 jam 00.21 pagi, jkt

0 Comments:

Post a Comment

<< Home