Avoir Froid De La Solitude De La Vie

J'ai trois fenetres ma chambre, l'amout, la mer, la mort, et toi...?

Thursday, September 29, 2005

telor ato Ayam...???


Melepaskan penat setelah melakukan aktifitas seharian di luar rumah, atau ga tahu musti melakukan apa di akhir minggu, jawabannya adalah memegang remote control dan duduk di depan pesawat televisi mencari-cari acara yang disukai. Hiburan murah yang tidak mengeluarkan duit sepeserpun, dibandingkan dengan beli atau sewa vcd, atau pergi ke mall buat nonton atau shopping. Tetapi belum juga 5 menit tenggelam di acara favorit, kita sudah disuguhi iklan. Iklan apa pun itu. Iklan obat pusing, iklan sabun cuci, iklan kompor, iklan rokok, iklan obat kuat, iklan sepatu, sampai iklan pemilihan presiden, iklan layanan masyarakat dan iklan sinetron. Tangan kita lalu meraih remote, dan siap memindahkannya ke channel lain. Tapi lagi-lagi yang kita temukan adalah barisan iklan. Sepertinya mereka sudah punya perjanjian bahwa di jam-jam kesekian, menit-menit kesekian, dan di detik-detik kesekian mereka akan memuntahkan iklan. Setelah itu, baru acara kuis, sinetron, atau film-film India dilanjutkan secara bersamaan… Politik siap tempur pertelevisian untuk berlomba-lomba pamer kebolehan acara mereka…

Memang tidak ada yang bisa disalahkan, karena televisi tidak bisa dipisahkan dari iklan, dan iklan tidak bisa dipisahkan dari televisi. Saling bergantung dan saling menguntungkan secara ekonomi… Sama seperti saya, saya butuh televisi untuk ditonton acaranya, untuk hiburan gratis, walaupun sebenarnya tidak gratis total karena nonton tv juga butuh listrik, tapi at least gratis lah dibandingkan rentetan aktifitas di atas tadi… Televisi juga butuh saya, sebagai pemirsa, sebagai orang yang menyukai acaranya, untuk menambah-nambah jumlah ratting mereka, dan pada akhirnya duduk diam: nonton.. Lalu supaya semua insan terpenuhi kebutuhannya, terjadilah pemanfaatan moment, diselipkanlah iklan-iklan. Lalu permasalahannya apa..?

Bombardir iklan. Cukup duduk, jangan pindah channel waktu ada iklan, dan amati.

Masih ingat adegan iklan salah satu rokok, dimana seorang pegawai restoran yang sambil membuat adonan terbayang sedang memijat punggung seorang perempuan seksi di pinggir pantai? Iklan ini sempat mengundang kritikan ketika itu. Bagaimana tidak, iklan rokok ini sebenarnya kreatif, tapi sayang telah mendukung eksistensi laki-laki, dan menjadikan perempuan sebagai obyek seks. Saking gilanya pengaruh rasa nikmat yang bisa ditimbulkan rokok tersebut, sampai-sampai mampu membuat si pekerja restoran itu mengkhayal sedang mengulas tubuh perempuan, padahal sebetulnya adonan kue yang sedang digilasnya.

Cerita iklan shampoo. Dua perempuan bertemu dengan seorang teman perempuan yang sudah lama tidak bertemu, di sebuah counter pakaian sebuah mall. Perempuan yang satu ini sekarang cantik, rambutnya hitam, panjang dan indah terawat. “Belum punya anak sih, jadi punya waktu deh…” Kalimat itu yang terlontar karena mereka terpana menyaksikan satu temannya ini menjadi cantik. Lalu muncul seorang anak perempuan kecil yang ternyata anak perempuan cantik tersebut. Lalu sosok perempuan muda yang digambarkan sedang sedih karena teman laki-lakinya lebih tertarik pada perempuan lain yang kulitnya lebih putih pada iklan pelembab yang mengandung whitening. Selain menekan-nekankan soal kulit putih, iklan ini juga menekankan bahwa usaha mendapatkan kulit putih adalah untuk menyenangkan laki-laki. Citra yang muncul, perempuan yang cantik adalah perempuan berkulit putih, berambut hitam dan panjang. Perempuan seperti inilah yang akan selalu mendapat tempat eksklusif di mata para pria, bahkan masyarakat. Perempuan diharapkan mampu tampil menawan, berkarakter lembut, berkulit halus, pandai mengurus rumah tangga, memasak, mengurus anak, dan selalu mampu tampil prima untuk menyenangkan suami.

Ada juga iklan rapet kewanitaan. Gambaran sepasang pengantin yang baru menikah. Si pengantin perempuan disarankan memakai salah satu produk rapet kewanitaan, supaya rumah tangga terus bahagia. Di sini citra perempuan sebagai pemuas laki-laki sangat terasa. Tanggung jawab kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga sepenuhnya di pundak istri. Kalau sang suami menyeleweng, maka yang salah adalah si istri karena tidak bisa memuaskan di ranjang. Padahal ga juga kan?! Kalau suaminya memang mata keranjang dan doyan perempuan, ya ada aja tuh w.i.l. alias wanita idaman lain…

Seorang ibu muda yang kebingungan ketika anaknya sedang sakit batuk. Sang nenek sebagai tokoh penyelamat sampai datang walaupun malam itu sedang hujan. Memandang anak perempuannya dengan mata sebal, menyalahkan seakan-akan anak perempuannya ini tidak becus mengurus anak yang sebenarnya hanya sakit ringan: sakit batuk. Lagi-lagi memunculkan gambaran masyarakat bahwa hanya perempuan yang punya peran mengurus anak sakit. Perempuan menindas perempuan. Sang nenek disini sebagai wakil masyarakat, dan sang ibu sebagai wakil perempuan dalam komunitas masyarakat.

Lagi, iklan sebuah multivitamin. Si ibu pulang kerja, kelelahan karena aktivitas kantor yang menyita waktu dan tenaga. Sampai di rumah sudah tidak punya tenaga lagi mengurus rumah, anak, dan suami. Citra perempuan adalah pilar rumah tangga. Ia harus juga menjalankan tugas tradisional, walaupun sudah seharian punya keinginan wajar yaitu mewujudkan impian karirnya, atau keinginan mulia membantu sang suami memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Lagi-lagi perempuan harus menjadi super women. Serba bisa. Boleh punya impian karir setinggi langit, tapi tetap harus mengurus rumah juga. Tidak ada pembagian tugas yang adil dalam perkawinan.

Iklan sabun cuci yang selalu menggunakan perempuan sebagai tokoh utamanya. Iklan minyak goreng, iklan kompor yang selalu meletakkan perempuan selalu ada di dapur dan sangat akrab dengan tugas-tugas domestik. Iklan rokok yang selalu menampilkan laki-laki sebagai pejantan tangguh penikmat tembakau tersebut, padahal dari dulu juga tidak terhitung banyaknya perempuan yang termasuk dalam golongan penikmat asap, apalagi di dunia modern seperti sekarang ini…

Citra-citra iklan seperti itulah yang sering dilayangkan ke hadapan kita, bahwa semua iklan yang berhubungan dengan memasak, mengurus anak, rumah dan segala printilannya, menggunakan perempuan (istri) sebagai pelaku utama. Bila mau sukses perempuan harus selalu tampil cantik dan muda. Cuma perempuan yang punya tugas mengurus segala tetek bengek rumah tangga. Perempuan harus berupaya untuk cantik dan sehat untuk memperoleh persetujuan atau perhatian laki-laki dan masyarakat. Perempuan juga dicitrakan tidak menawan bila tidak menggunakan produk kecantikan, tidak tampil muda, tidak berkulit putih, tidak lembut, dan tidak langsing.

Citra laki-laki adalah jantan, kuat perkasa, pencari nafkah, pelindung, atau sebagai atasan.

Satu lagi, yang sering saya dengar dari nasehat nenek-kakek, saya tahu dari cerita-cerita jaman dahulu, atau saya baca dari karya-karya sastra era Sitti Nurbaya: setinggi-tingginya perempuan terbang, jatuhnya ya ke dapur (walaupun kalau jaman sekarang dapurnya bukan seperti dapur jaman nenek saya dulu, dapur modern dengan segala fasilitas, microwave, kulkas keren, tapi tetep aja judulnya ya dapur). Stereotip lama yang ternyata masih sukses hidup sampai abad ini…

Mau tidak mau, iklan memang tidak lepas dari konteks budaya masyarakatnya sendiri, terbentuk dari stereotip, pola pikir dan cara memandang masyarakat pada suatu hal. Bila itu memang terbukti benar adanya, ya maka memang seperti itulah citra perempuan di mata masyarakat (walaupun iklan cenderung melebih-lebihkan realitas). Dalam persaingan dagang yang terus-menerus ketat, bukan ga mungkin citra tersebut selalu digunakan untuk merangsang konsumen. Lalu? Semuanya kembali lagi kepada kita semua untuk bisa bersikap lebih kritis… Apakah mungkin stereotip bisa diubah, dan sebuah kerinduan para perempuan dapat diwujudkan menjadi penilaian dan penempatan sesuai dengan “prestasi” dan kapasitasnya sebagai manusia? Lalu mana dong yang harus dirubah lebih dulu, stereotip di masyarakat, ataukah citra di iklan…? Jawabannya sama sulitnya, ketika kita harus menjawab pertanyaan: Mana yang lebih dulu ada, telor ato ayam…???
(Shinta Larasati di Jakarta 15 Des 2004 20:20)

2 Comments:

  • At 11:39 PM, Blogger Linda Johnson said…

    Large Firms Discover New Marketing Tool: Blogs
    No longer viewed as just forums for law gossip or associate griping, blogs are becoming a marketing tool for large law firms eager to create a buzz about their practice areas.
    Find out how you can buy and sell anything, like things related to music on interest free credit and pay back whenever you want! Exchange FREE ads on any topic, like music!

     
  • At 11:40 PM, Blogger jobs123 said…

    Wip it Good! Profitable Consulting: Cash-flow...
    ITtoolbox Blogs WIP IT GOOD! Profitable Consulting: Cash-flow Solutions Posted 3 hours ago | by Matthew Moran | The Consulting Life | Comments | TrackBacks Great input yesterday - greatly appreciated and keep ...
    Hey, I love your blog it's real great!

    I have a american singles site/blog. It pretty much covers american singles and dating related stuff.

    You should come and check it out if you get time :-)

    -----------------------------------------------------

     

Post a Comment

<< Home