Avoir Froid De La Solitude De La Vie

J'ai trois fenetres ma chambre, l'amout, la mer, la mort, et toi...?

Thursday, October 13, 2005


mega menelungkupkan badan dan kluarlah muntahan udara cepat yang menimbulkan suara berisik terbahak-bahak. Mmmh… mukanya jadi lucu walaupun sebetulnya tidak. Matahari melebarkan jari dan semua diam. Sunyi. Senyap. Hanya suara gerasak daun kembang melati merah. Lalu warna merah diubah menjadi hijau, dan semua kembali protes, “Huuuuuu…. kan tidak bagus kalau kembang sewarna dengan daun, tidak indah”
Dan bulan pun menyumbang suara,”Tidak masalah, sejauh mata mereka masih awas membedakan mana daun dan mana kembang”.
“Masalahnya adalah apakah kau sendiri mampu membedakannya?”
Bulan mulai membuka rahang lagi, tapi tiba-tiba langit merubah warna menjadi abu-abu, kemudian legam. Mega mengangkat gaunnya ke atas, dan mengencingi mereka dengan air seni kelam. “Ini hadiahku buat mereka”, kata mega.
Semut-semut kelabakan dan lari-lari berteduh mencari tempat kering. Berebutan masuk ke dalam lubang sarang. Daun-daun pohon beringin berputar-putar ingin ikut berteduh tapi tak mampu lepas dari batang pohon.
(Ha..ha..ha..)
Ada suara tawa puas. Aku dengar itu. Gaung suara yang terpental-pental menabrak tinggi gunung dan curam tebing. Aku bawa kepalaku ke kanan, tapi tak ada satu pun makhluk bernafas. Dan ketika ku bawa ke kiri, ppfffhhhh…juga tidak ada tanda-tanda. Lalu apa itu?
Matahari memegang jenggotnya, dan merapikan lentik kumisnya. Ia duduk di atas singgasana, dan termenung. Kepalanya mulai mengangguk-angguk tak tentu, dan dagunya terus terantuk tulang bahu. Tak lama kemudian mendengkur. Nyenyak sekali. Air liur juga sudah mengalir di sisi mulutnya.
Mulai terdengar suara bisik-bisik di dunia atas. Sang raja sedang tertidur. Raja tua namun berkuasa. Penghuni mulai turun satu persatu. Bulan hanya melihat, tapi tak bisa apa-apa. Biar saja nanti kalau sang raja tahu, pasti semua dihukum, minimal penjara seumur hidup, dan maksimal hukum mati dengan cara ditarik dari dua sisi atas-bawah sampai tubuh copot terbelah dua.
Aku bisa dengar langkah penghuni berderap seperti tentara. Menuju planetku. Tapi langkahku berat sekali untuk berlari. Aku harus usaha! Kepala planetku harus tahu, segerombolan perusak sudah datang di sini. Aku tak rela planet tenang ini rusak. Jari kakiku luka, berair, dan mengeluarkan darah. Aku terus lari naik turun bukit dan gunung. Terpeleset, dan berdiri, terpeleset, dan berdiri. Tanah basah dan licin, becek karena air kencing mega. Harus sampai sebelum mereka tiba di tempatku!
Aku disambut dengan wajah bulat bidadari kecilku. Aku tak rela wajah bulat ini mengeluarkan airmata. Aku raih tubuhnya, dan ku bawa berlari menuju kediaman kepala planet. Beberapa penduduk menoleh, dan menghentikan kegiatannya untuk sementara. Mencium ada sesuatu yang tidak beres. Namun mereka mulai beraktifitas lagi.
Dua anak tangga terus ku naiki, sampai pada anak tangga paling atas rumah kepala planet, dan pintu utama langsung aku tabrak. Peluh keringatku menghujani lantai rumah terhormat ini. Kepala planet segera meraih tombak dan menutup tiga matanya mengucap mantra setelah menerima info dariku. Ia menutup hidung di atas kepalanya, menahan nafas, dan meneriakkan sesuatu yang ku tak mengerti apakah itu.
Dan aku tak menyangka, waktu cepat berlalu. Ada alunan lembut yang ku dengar. Burung-burung. Pagi datang.
Kepala planet sangat sakti.
Dan dari kediaman kepala planet bisa ku dengar kembali derap langkah penghuni yang tadi mendekat, kini justru menjauh. Mungkin…
“Dimana yang lain?!”gelegar suara sang surya. “Aku tidur dan yang lain pergi!!!”
Penghuni berebutan naik menuju tempat masing-masing. Yang penting waktu sang surya mulai keliling, tempat tidak kosong. Dan betul, hebat, sang baginda mulai pegang kertas, dan semua penghuni sanggup menjawab seruan pencarian sang surya terhadap status kehadiran mereka. Kemudian baginda mulai menjalankan tugasnya, memuntahkan surya untuk kita yang di bawah.
Nov 04

0 Comments:

Post a Comment

<< Home