Avoir Froid De La Solitude De La Vie

J'ai trois fenetres ma chambre, l'amout, la mer, la mort, et toi...?

Friday, October 28, 2005


Sebuah Short Messaging Service dari [...] yang isinya […] masuk ke hp gw sore ini…

DEPKOMINFO: BBM terpaksa dinaikkan, agar subsidi dapat dialihkan dari orang kaya kepada rakyat miskin. Bantu awasi SUBSIDI TUNAI kepada rakyat miskin. Terimakasih. DEPKOMINFO

Donc...sekitar 85% penduduk Indonesia menengah ke bawah serta merta mengernyitkan dahi begitu mendengarkan tarif BBM akan naik lagi, lalu langsung sibuk menghitung-hitung pengeluaran extra yang harus mereka keluarkan lagi. Sisa 25% nya, adalah bos-bos berduit yang kerjanya hanya turun naik mobil mewah, dan punya apartemen selusin, atau rumah seluas lapangan golf. Golongan ini lah yang sama sekali tidak tersentuh dengan naiknya harga BBM.

BBM memang memegang peranan penting dalam kehidupan kita, karena segala macam aktifitas, dari kebutuhan pokok kerosin rumah tangga sampai aktifitas berkendara, memerlukan BBM.

Sehari sebelum presiden kita mengumumkan kenaikan harga BBM, sebuah televisi swasta sempat menayangkan salah satu efek dari pra-kenaikan BBM. Antrian mobil di pompa-pompa bensin sangat panjang, dan terjadi dimana-mana. Menurut berita yang disampaikan televisi swasta tersebut, pihak Pertamina mengurangi pasokan bensin hingga 50%, WOW..!!! bagaimana tidak terjadi antrian-antrian panjang...?! Meskipun Pertamina tidak mengurangi pasokan pun, antrian pasti akan terjadi, karena semua orang langsung berbondong-bondong memborong bensin FULLTankk, mumpung harganya belum naik. Salah satu sahabat saya malah sampai membawa 2 galon aqua kosong untuk diisi bensin! ”Jerigen di rumah gue uda jebol bo, pake galon aqua aja, yang ada di rumah,” jelasnya.

Berkurangnya jumlah bensin di pasaran ini ternyata bukan hanya terjadi karena menurunnya pasokan bensin dari Pertamina, tetapi juga karena penimbunan yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung-jawab. Dikutip dari detik.com, bahwa telah terjadi 72 kasus berupa penimbunan BBM, penyimpanan BBM tanpa surat-surat, memperdagangkan BBM tanpa izin, mengangkut BBM tanpa delivery order, dan mengalihkan penjualan BBM yang seharusnya untuk mayarakat kepada pengusaha.

Setelah itu bisa dipastikan akan banyak pabrik dan perusahaan yang melakukan gerakan pengurangan pegawai yang membawa efek bertambahnya jumlah pengangguran dan semakin naiknya grafik kemiskinan.

Harga bahan makanan yang kemudian juga menjadi melambung karena biaya operasional yang naik pada akhrnya pasti ditimpakan kepada konsumen. Apalagi sebentar lagi umat Islam akan merayakan Idul Fitri, yang sudah menjadi tradisi selalu diikuti dengan kenaikan harga sembako. Bisa dibayangkan harga-harga akan naik menjadi semakin berlipat-lipat.

Biaya transportasi angkutan umum yang naik, juga memberatkan masyarakat pengguna yang sebagian besar sudah pasti masyarakat menengah ke bawah.

Plus masyarakat yang tinggal di pelosok-pelosok pedesaan, yang taraf hidupnya memang sudah tergolong miskin, terpaksa mengalihkan penggunaan minyak tanah ke kayu bakar. Bagaimana tidak, minyak tanah yang sebelumnya dapat mereka peroleh dengan harga Rp. 1.400,- naik menjadi Rp. 3.000,- Sementara dengan kayu bakar, mereka bisa memperolehnya dengan gratis di seputar tempat tinggal gubuk mereka.

Kalau dirunut-runut, sejak masa kepemimpinan Megawaty sampai sekarang SBY, harga-harga sering sekali mengalami kenaikan. Usulan kenaikan gaji pegawai juga... walaupun sudah dikabulkan, tetap saja tidak dapat ”mengalahkan” harga yang terus menerus menggelembung. Kalaupun saat ini gaji pegawai kembali akan dinaikkan, tentu waktu kenaikan tersebut masih memakan waktu 3 atau 4 bulan ke depan. Dalam jangka waktu sampai kepada waktu tersebut, mungkin jumlah masyarakat miskin yang mati karena kelaparan sudah terjadi. Subsidi juga akan dilaksanakan pemerintah. Padahal aktifitas ini sama saja percuma. Jumlah orang miskin di Indonesia terlalu banyak untuk bisa disubsidi oleh negara. Akan sampai kapan negara terus memberikan subsidi, padahal dana APBN negara juga sangat terbatas.

*Intermezzo: Heran juga gw, kenapa ya harga naik terus tapi SBY terus saja dicintai.? Padahal, ketika masa Habibie dulu, coba inget deh, dollar sempat menembus sampai angka 6.000 rupiah. Hebat juga kan..? Cuma karena orang-orang tidak suka dengan beliau, yaaa...ga lama kemudian lengser..*

Secara fakta, cadangan minyak dunia memang sudah semakin menipis, mungkin hanya bertahan sampai 2 abad lagi. Sehingga harga minyak di pasar sangat tinggi dan membawa akibat bagi perekonomian semua negara. Dan Indonesia sebenarnya tidak akan terlalu merasakan dampak tersebut, kalau saja negara ini sudah memiliki SDM yang handal. Indonesia termasuk negara penghasil minyak. Sayangnya, untuk mengolahnya menjadi minyak siap pakai, kita terpaksa masih harus mengirimnya ke luar negeri untuk kemudian dibeli kembali setelah menjadi minyak siap pakai. Sehingga ketika harga minyak di pasar dunia melambung kita terpaksa harus ikut terseret membeli dengan harga mahal. Dan jadilah kita seperti ini, satu-satunya negara anggota OPEC yang mengimport minyak.

Selain sumber energi minyak, masih banyak sumber energi yang dihasilkan negara ini. Contohnya saja batubara, yang diperkirakan masih bisa bertahan sampai 2.000 tahun lagi. Dengan teknologi, batubara ini dapat diproses menjadi pengganti bahan bakar minyak. Disamping batubara, sumber alternatif lain yang dapat dikembangkan antara lain energi matahari, energi nuklir, energi angin, dan lain-lain. Pada intinya, sember-sumber energi tadi sebetulnya bisa dijadikan alternatif lain sebagai pengganti bahan bakar minyak. Sebagai pengganti minyak untuk transportasi, misalnya, bisa digunakan Metanol (sejenis alkohol) yang dibuat dari penyulingan gula tebu. Metanol biasanya dipakai untuk menghidupkan mesin-mesin kecil seperti pasa pesawat model, atau mesin-mesin miniatur. Apabila alternatif sumber-sumber tadi dikembangkan, maka rakyat negara ini pasti tidak akan merasakan efek harga minyak dunia yang melambung naik.

*Hayooo ngaku..siapa yang dulu milih SBY..? *

[1okt05]

0 Comments:

Post a Comment

<< Home