Avoir Froid De La Solitude De La Vie

J'ai trois fenetres ma chambre, l'amout, la mer, la mort, et toi...?

Wednesday, December 14, 2005

Kenapa kamu belum menikah juga...?

Ga berasa sudah akhir bulan, dan sudah saatnya harus melakukan aktifitas belanja kebutuhan untuk satu bulan ke depan. Lalu tiba-tiba handphone berbunyi. Ternyata sahabat lama. Kangen ingin ketemu katanya, dan yang pasti kangen curhat. Tempat dan waktu langsung ditentukan. Transaksi belanja bulanan segera diselesaikan, dan melesat keluar mencari taksi. Taksi? Mppffhh… sebenarnya saat ini jasa transportasi yang satu ini sudah bukan favorit, rugi rasanya karena tarifnya sudah melonjak menjadi demikian ”baru” tapi pelayanan masih model “lama”… Namun demi mengejar waktu untuk bertemu teman lama, it’s ok lah!

Satu jam, sudah plus macet, saya sampai di lokasi yang sudah disepakati. Sang sahabat sudah 5 menit tiba lebih dulu. Sebuah ritual biasa, cium pipi kanan dan kiri, dan saling menggoda dengan celaan: kok tambah gendut, ih tambah item deh lo terjadi. Setelah pesan minum dan cemilan ringan, kami mulai membuka percakapan dengan pertanyaan: apa kabar lo, gimana kerjaan lo, gimana bos lo masih galak, gimana cowok lo, gimana nyokap lo masih suka ngomel…

Lalu percakapan mengarah ke arah curhat. Sahabatku mau kawin pertengahan tahun ini. Waduuuhhhh seneng banget saya dengernya… Kontan saya berdiri, dan memeluknya sebagai ekspresi ikut senang atas kebahagiaannya. Tapi reaksi yang diberikannya justru sungguh mencengangkan. Dia ga senang! Aneh! Padahal dimana-mana, niat baik berupa ajakan melangkah ke gerbang pernikahan dari sang pacar adalah kebahagiaan, karena merupakan satu langkah ke depan dalam sebuah hubungan.

“Lo emang dijodohin bokap nyokap lo ama tu cowo ?”
“Gak!”
“Lah, trus knapa? Lo berdua kan udah 4 taun pacaran. Bagus dong kalo sekarang akhirnya married. Kenapa sih?”
“Gue blon siap!”

Pertanyaan-pertanyaan menghujani kepala saya dan coba mencari sendiri jawabannya: Waduh?! Kok blon siap? Knapa? Umur, cukup: ga ketuaan, ga kemudaan. Lama pacaran, cukupan lah, kalo lebih lama pacaran malah biasanya bahaya bisa jadi bosen. Lah trus apanya yang blon siap…??? Banyak dari teman-teman yang sudah pengen married tapi sayang calonnya belom juga ketemu-ketemu.


Banyak faktor yang membuat individu menjadi ragu untuk melangsungkan pernikahan. Antara lain karena proses seleksi ketat yang mereka targetkan terhadap calon pasangannya. Untuk mendapatkan kriteria sempurna sering sekali selalu melakukan stardarisasi harus siapa, atau seperti apa si pasangan. Dan yang lebih gawatnya, patokan sempurna tersebut dipengaruhi oleh standarisasi gaya hidup, tuntutan sosial. Alangkah baiknya apabila proses standarisasi ini dihilangkan, dan kita lebih melihat kepada hal-hal yang memang dapat terus “hidup” sampai kita menjadi tua. Hal-hal yang memang sangat cocok dengan kepribadian dan karakter, yang akan terus mampu menopang kestabilan hidup secara moril, misalnya perhatian yang diberikan, kemampuan pasangan kita bersosialisasi, intelektualitas, agama, kelancaran komunikasi, kondisi pekerjaan dan finansial, keterbukaan akan seks, kesamaan hobi dan minat,

Fenomena lain yang kini sedang marak adalah sebagian dari generasi muda justru mengalami ketakutan yang mengarah kepada ketidaksiapan mereka secara finansial, dan ketidaksiapan mental. “Gue baru akan married setelah gue punya gaji sekian, setelah gue dapet gelar S2-S3, setelah gue udah punya mobil, setelah gue udah punya rumah, bla…bla…bla… Yahh, kalau ga gitu ntar anak gue mau dikasi makan apa, atau kalau ga gitu ntar kalo misalnya gue cerai ama suami gue ga bisa ngapa-ngapain dong jadi gue musti ngumpulin duit dulu biar gue juga punya tabungan, atau gue married pas umur kepala tiga aja ah supaya mental gue lebih siap gue lebih dewasa ngadepin masalah” pernyataan-pernyataan itu yang sering ada pada mereka. Sementara itu ditengah kesibukan meraih keinginan dan impian, mereka tidak sadar bahwa waktu terus berjalan dan umur mereka terus bertambah.

Saat semua impian sudah dinilai tercapai, akhirnya pernikahan terlaksana saat memasuki kepala tiga. Iya kalau yang di Atas memang langsung mempercayakan untuk ”menitipkan” seorang, atau sukur-sukur lebih dari satu anak, nah kalau tidak...? Belum lagi masa subur yang terbatas, perempuan semakin beresiko melahirkan atau mengandung yang berbahaya pada keselamatan ibu dan janin, dan kondisi sperma laki-laki yang tidak lagi sebagus di umur yang lebih muda. Coba hitung pula berapa umur kita saat anak kita menginjak remaja, dimana umur tersebut sangat rentan dengan pemberontakan-pemberontakan karena pencarian jati diri, apa kita mampu mengimbangi sang anak dengan segala pengertian dan pemahaman terhadap dunia mereka, padahal umur kita sudah terlalu tua untuk sebuah pembaharuan dan pemikiran yang lebih terbuka bila dibandingkan dengan keterbukaan semasa era kita remaja ?

Umur, rezeki adalah sesuatu yang abstrak. Bagaimanapun, apapun, dan kapanpun, kalau memang diberikan pasti akan kita peroleh. Jadi sahabat lamaku, jangan pikirkan mengenai status sosial dan jangan takut dengan kurangnya rezeki yang dititipkan kepada kita, kalau memang ”untuk” kita, maka itulah ”milik” kita.

Kantor Jak Rabu 14 Des 05, 20.08

0 Comments:

Post a Comment

<< Home