Avoir Froid De La Solitude De La Vie

J'ai trois fenetres ma chambre, l'amout, la mer, la mort, et toi...?

Thursday, September 29, 2005

urai rambut sang pengais


urai rambut sang pengais lepaskan kancing demi kancing elus lembut munafik perut buncit berbulu sang dermawan perlahan pakaian terlucuti si lentik dan keringat membasahi lantai mengubah malam menjadi siang bulan menjadi matahari kenakan pakaian langkahkan kaki pertontonkan jenjang betis menggunduknya dada halusnya kulit walau ta' begitu indah hitung detik satu dua tiga dan seterusnya

secarik roti lapis merah



rajaku rajaku hilang rajaku hilang diayun hawa gamang rintis jalur asap cerutu hitam diayun hawa gamang rintis jalur asap cerutu hitam tinggalkan nadi balur nyala nuansa malam tinggalkan nadi balur nyala nuansa malam bersama seringai selimut laut perak bersama seringai selimut laut perak salam jauh untuk sang rajaku salam jauh untuk sang rajaku bawakan aku secarik roti lapis merah bawakan aku secarik roti lapis merah jabang bayi kita akan menyeringai bermain dengan secarik roti lapis merah mu jabang bayi kita akan menyeringai bermain dengan secarik roti lapis merah mu menggigit dan mengunyahnya dengan gusi-gusi merah jambu segar tanpa gigi susu menggigit dan mengunyahnya dengan gusi-gusi merah jambu segar tanpa gigi susu sama seperti ibunya
[previous]
mungkin semua harus kembali seperti dulu lagi
saat semua terus berair dan penuh luka
layaknya setitik air dan tak lama terhadap lagi
dengan nyata dunia
tak ada yang bisa aku miliki utuh, tidak hatinya dan tulusnya
dulu ada tangis & raung untuk sebuah kasih yang lengkap hanya untuk ragaku & tanpa ku tahu rencanya Nya matahari mulai mencari menarikku perlahan ke pelukannya
wujud ku terbaring hangat akan sinar lembut melelehkan bekuku & kuserahkan semua harapku pada setitik damba yang semakin hari terus mekar
tapi semua bunga harus layu mengikuti perputaran hidup dunia & tak ada kekuatan tajamnya parang yang dapat menghentikan semuanya
walau sebuah cerita telah dirangkaikan
bekukan kembali hati dan hari ku agar tak lagi kurasakan damba hampa
[next]
semua teriak selamat tertuju kepada sebatang tubuh
masih terbalur aliran awan hitam, lapuk oleh puing
asa, pekat tersedak akan jerit luka menganga
seribu harap hampa yang terjadi mengiang di pernafasan
membawa gelombang laut menuju titik hancurnya
keangkuhan diri
sebuah senandung merdu menyeret tubuh memeluk erat
yakini dunia adalah milik bersama
nada demi nada terjalin pada lajur raga mengalungi
jenjang detik panggil nuansa birahi cinta
dahaga jiwa terhempas semilir percik pelita ditetesi
darah kasihsenyum kunikmati senyum ku cinta
seribu pulau kan ku langkahi untuk memeluk dermaga
yang ia tuangkan di cangkir hati kelam kurasa kucintai dendam kupeluk tubuh & raga ku kulum gairah kutatap pagi menjadi malam tak kan terus bersinar sinari
puing rasadan ku harus kembali teronggok di sudut kubur semua ikrar mu temani nisan yang tertancap manis di tanah merah basah
jiwa mu, aku mengerti
karna aku memang hanya sebatang tubuh membusuk tanpa tonggak
karna hanya tubuh yang mampu menyatu tidak jiwa mu yang bernanah
pergi
dan jangan ganggu aku
rasa,
itu yang jadi bayangan ku sejak embun nafas ku menyentuh langit kepulan asap
satu demi satu kepalan harap datang selimuti nafsu
imingi empat kaki berbalur madu
namun tulus ta’ jua menyapa…entah…mungkin raga nya menyusut ditelan angkuhmungkin juga takut tersandung jurang terjal terpikir tenggelam menyatu dalam batu karang ramu rasa menjadi satu bercampur hujan yang ta’ hentikan jeda irama bulan
gamangkan wajahku sapu bersih semua aroma kecut racun semua hati bualan berbunga
biarkan semua tubuh merayap ikuti ombak laut
menuju pulau kehancuran terpecah dalam keping berserakan di atmosfir ujung jari kaki ku

I
diantara desakan muak kehidupan malam ini ta' ragu…. Pffhhh!!!!
ku bawa sepasang kaki menuju gerombolan kawan-kawanku berdiri, mencari sosok seseorang
aliran darahku naik, dan memenuhi isi kepala
dan ku cari dirinya…suara-suara menjarumi gendang telingaku
dimana kau? hewan-hewan bersayap sudah mulai berkeliling mencumbu tanduk, menggulung dan menuntun menuju sumber angin, dan kau seenaknya saja menghilang!
ah, kau! di sini rupanya! Dan kau peluk diriku! mendadak rasa takut ku hilang…karena pelukan mu?
kini kalungku tinggal sensasi nikmataku melayang, terus ikuti ayunan alur pengaruh hawa di pikiranku
sepasang tangan kekar menjagaku, mengalungkannya di lingkar pinggangku
dan sebuah kepala menyandar di dadanya, kepala kurasa hangat mengalir, sebuah bunga kering tiba-tiba tersenyum
daunnya hidup, memenuhi batang dan ranting,
lengkap dengan ulat-ulat hijau yang gemuk-gemuk
seirama kami melangkah mengikuti desakan keinginan bawah sadar kami
pelan ku arahkan tangan ku, ku genggam rambutmu, basah oleh keringatmu
MPpFhH…
air tubuh terus keluar dari pori-pori tubuh kami
sebuah ketergantungan menggelayut
II
dan terus berputar hingga putaran matahari dan bulan
Aku jatuh cinta… ?!
sebuah mimpi
III
bagaimana kekasihku? Aku merindukanmu, Kau..?
[lebih kuat dari masa dulu, Kau..?]
IV
dari kejauhan wajah bulatnya tersenyum menatap langkah ku menuju permadani berpijak
menanti ku hampir ta’ mengenali aku….?
Ya, karena ada oksigen baru di darah ku dikelilingi sinar bahagia,
atau hanya karena styling baru kuaku cantik katamnya… dan sinar sayang juga berkomunikasi dari aura mata
sebuah palu godam menghantamku keluar atmosfer bumi
aku bersalah atas sesuatu yang ta’ ku persilahkan bertamu
…)

Rasanya wajar saja ketika seorang manusia memulai dan kemudian menjadi terus-menerus mempertanyakan siapa pasangan jiwanya yang akan mendampingi sepanjang sisa hidupnya kelak. Hanyalah berprofesi sebagai manusia, yang menurut kepercayaan bahwa semua dan setiap takdirnya adalah Tuhan yang menentukan, maka yang kuasa ia lakukan adalah memang hanya menjalani apa yang ada di hadapannya dan hanya menunggu detik-detik waktu yang terasa demikian lambat berjalan namun begitu meraja dalam menentukan jalan hidupnya, indah ataupun buruk.
Dan pernahkan manusia membayangkan apa jadinya sebongkah tanah luas nan indah yang merupakan tempat berteduh ini menjadi sebuah neraka ketika semua manusia menjadi tersiksa karena diserbu pertanyaan-pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh serangkaian waktu yang merayap maju lambat tanpa sebuah kepastian.
Aku, adalah bagian dari kelompok yang hanya diwajibkan dan yang hanya mampu untuk menelusuri lorong hitam panjang tanpa ujung akhir kepastian tanpa kemampuan untuk meraba apalagi untuk mengetahui sebuah titik hitam atau putih yang menunggunya di ujung sebuah penantian. Kemudian aku menjadi semakin resah dan gundah karena semua itu. Semakin hari seiring dengan detik-detik waktu yang terus menggiring kehidupanku, kali itu aku menjadi gila, dan terus-menerus semakin gila, atas keinginan untuk berlari mencari lalu mengejar demi mengetahui warna akhir titik penantianku, yang kemudian tanpa aku dapat kendalikan tiba-tiba saja keinginan itu berubah menjadi sebuah teriakan petir menggelegar yang tak pernah bisa bahkan tak akan pernah kumiliki sebuah kesaktian untuk ku memamerkannya: hasrat kuat ku itu kepada dunia; semua hanya terendam dalam perpaduan lemahnya tubuhku, ringkihnya kemampuanku namun kuatnya birahi ku sebagai seorang manusia.
Sebuah senyum sedih penuh ketidakpastian dan ketidakmampuan pun menghias di wajahku, karena hingga saat ini kursi terbaik yang aku siapkan di pusat kehidupan tubuh ku, bahkan entah sampai kapan dan mungkin untuk seterusnya, tidak juga terisi. Mungkin lebih baik aku bangkit dari singgasana ku dan meninggalkan pasangan hampaku itu untuk selamanya karena kelelahan yang menjamur telah menjadi karat pedas di dalam hatiku.
Maka serta merta semua manusia hanya akan menyeringai iba, tersenyum, bahkan tertawa sinis, menyaksikan kegilaanku, mungkin karena tidak merasakan atau bahkan mungkin karena tidak akan pernah mengalami apa yang saat ini sedang aku geluti. Karena duniaku yang tercinta ini terdiri atas banyak bongkahan daging yang setiap bongkahnya memiliki keinginan dan warna kehidupan yang masing-masing berbeda.
Saat ini, setelah kegilaanku yang terus-menerus merongrong kehidupanku, lambat laun kurasakan kemunculan sebuah rasa, atas ketidakadilan terhadap jatah yang dunia berikan kepada masing-masing insane bernafas, yang mulai menyesakkan dadaku. Ketidakadilan yang menghasilkan sebuah pertanyaan, bahwa, bila sedikitnya sebagai manusia aku tidak berhak untuk mengetahui siapa ia, lalu apakah aku tidak cukup layak untuk sediki merabanya demi mengira-ngira, seperti yang sedang dan seperti yang telah dirasakan oleh manusia-manusia yang berkeliaran di sekelilingku…??? Yang aku temukan selama ini hanyalah melimpahnya harapan-harapan kosong yang tidak pernah terwujud, kesakitan-kesakitan yang entah sampai kapan masih terasa menusuk, bayangan-bayangan hitam yang terus melekat di seluruh lapisan kulit tubuh ku, sebuah malam yang tidak pernah aku temukan di dalamnya setetes embun pun dan tembok-tembok tebal yang demikian sulit untuk aku tembus.Maka, walaupun penuh kewajaran ketika seorang manusia yang lemah berkhayal tentang seorang pasangan jiwa, namun aku, jangankan berkhayal tentang seorang pasangan jiwa masa depan, bahkan untuk saat ini pun, aku tak pernah mendapatkan jatah indah sebuah belaian kasih dari seorang pangeran seperti kisah-kisah di dalam dongeng, layaknya jatah yang telah digenggam oleh manusia-manusia lainnya. Aku hanya terus bergabung dalam barisan panjang yang rapih dan harus senantiasa patuh dalam antrian panjang yang terus maju untuk memperoleh tiket menuju ujung lorong penantian karena aku adalah kerikil halus yang merupakan bagian dari kelompok yang hanya berhak untuk menggantungkan harapan dan keinginan pada waktu serta pada yang telah digariskan oleh apa yang disebut dengan nasib atau takdir. Yang aku semai kemudian, sebuah hasil sempurna bernilai point 100 atas kepatuhan terhadap waktu dan kepatuhan terhadap takdir, yaitu seuntai tali tebal kuat yang merantai kedua pergelangan kakiku, sementara manusia yang lain berderap maju.Siapa yang harus aku hukum karena kesalahan: waktu yang terasa demikian lambat berputar; takdir yang demikian gelap untuk diriku; ataukah bahkan diriku sendiri yang telah demikian dahaga, lelah, bosan dan perih pada sebuah penantian berkawan luka tanpa gerbang cahaya keemasan…??
Namun, terlalu berlebihankah atau bahkan tidak; atau terlalu salahkan atau bahkan tidak; serta terlalu wajarkah atau bahkan tidak, bahwa entah karena sebuah rasa optimis atau hanyalah karena sebuah kelelahan akan air mata yang kemudia berbunga menjadi setangkai mawar keputus asaan, bahwa saat ini aku masih berani berharap lalu bermimpi tentang sebuah raut wajah dan sebuah genggaman kuat namun lembut penuh kasih cinta yang mungkin akan aku miliki seperti halnya manusia lainnya. Untuk saat ini dan saat nanti…
Aku tak tahu, Kawan…..
[sebuah jawaban untuk seorang sahabat: APAKAH HIDUP HANYA UNTUK MENANTI KASIH SEJATI ???]
Apa kabar.?
rasanya memang seperti ini..aku sudah lama kenal kau. walaupun sudah lelah namun kembali lagi. Selamat datang! Benteng yang sudah tegak lalu runtuh lagi. Berkeping, menusuk setiap kaki yang melangkah, mengalirkan darah segar, membuat nanah dan membaui semua lalat-lalat pamangsa bangkai. Teriakan pun ta’ mampu menyatukan matahari dengan bulan. Hanya ada angin yang berhembus dan tertawa membahak. Lalu mendung yang menyumbangkan petir.
Berlari dan berjalan, pelan, cepat, terburu-buru
uraian rambut menyelimuti hati, bergerak pelan mengikuti irama langkah kaki, kadang setiap helainya memisahkan diri dari kelompoknya karena sapaan angin nasib dan polusi takdirterus melangkah menemani embun-embun yang menitik pada sepasang pipi
embunnya yang menitik...apakah hatimu juga dipenuhi embun, seperti selimut tebal yang selalu menutupinya merenungi kehidupan hari tadi, dan lalu...hanya ada penutup pilu yang membungkus hati dan keinginannya, rasa rindunya..sudah lama ta’ hadir rasa itu. Tatap mata dan semua ternyata hanya kebohongan. Hanya ragu dan harus terbukti. Sudah. Ya, aku ingat. Terimakasih atas cinta busukmu.
Jak kantor 7sep 20.06
telah dua puluh enam tahun kutatap waktu berputar,matahari yang bersilau terik membakar segalanya,
juga bulan yang berkawan sungai perak membanjiri dunia akan kesunyian dan kepiluan
airmata Sang Penguasa yang meludahi tanah pijakan
pelangi yang menampakkan senyum hangat di wajah biru
bernyanyi bersama makhluk-makhluk bersayap
dua puluh enam tahun pula semua berputar mengelilingiku
terus berputar berganti posisi,
saling mempersilahkan pada masing-masing untuk mencicipi nikmat kehidupan dan bersahabat dengan ketentraman jiwa
tapi tidak nasib dan takdir ku …seonggok mayat hidup ta’ mampu bergerak
sepasang bola mata mati tak beraliran semangat
potongan daging tinggi yang hanya mampu menghirup udara panas kebencian
dua daun telinga yang dikunci rapat karat mendesis
sepuluh batang daging lengan tak berfungsi
sepasang kaki yang terantai kuat
hati hitam dicekoki kekecewaan
otak dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tanpa keberadaan jawaban
terbuang
dicampakkan
sendiri menangis di sudut ruangan kehidupan
ta’ kuceritakan pada siapa pun
ku simpan harta karun kehidupan
sumber mata air bagi nafas kukeinginan untuk bebas berbahagia memiliki cinta
itulah aku … !
Jakarta, 15 oktober 2002 jam 12.39 pagi
Sadarkah kalian kutukan yang melekat kuat pada kehidupan
Tentang arti sebuah cinta
Telah kualami semuanya
Berulang kali ku berada dalam cengkeraman kata cinta
Namun tak pernah ku rasakan sebuah indah dalam cawan manis
Ku habiskan waktu untuk lebih mengerti tentang itu semua, namun tak pernah ku temukan jawabannya
Tidak ada seorang yang mengatakan semua kepadaku
Seperti kini ku bercerita kepada dunia
Cinta tidak seindah kelihatannya
Tidak ada senyum hanya air mata
Dikelilingi oleh tangis bayi kecil, dan seorang suami yang harus dilayani setiap malam
Itulah cinta
Arti sesungguhnya dari keindahan surga kasih yang selama ini digambarkan
Tidak ada sebuah kecupan hangat di bawah sinar bulan purnama
Tidak ada sebuah pelukan mesra dinaungi hamparan lautan perak langit malam
Yang tersisa hanya sebuah kepedihan

La rivière argent

Je suis en train de s’asseoir,
rêver,
se taisse seuleument,
sans parole,
sans avoir de puissance pour s’arrêterle sentiment qui avait brulé …
Le feu dans mon coeur brule ancore,qui chauffe le ciel bleu,
puis devient noir …
n’éteint pas
depuislong temps,
jamais ..et
la plaie ne recurire pas encore,
jamais …
Le sang coule,
ferme les oses,
comme une courant d’une rivière,
et on ne peut pas indiquer…
Il y a encore la peine,
il y a encore l’odeur rance,
quand ton couteau noir poignarde mon Coeur,
la plaie, le sang,
et le pus ne sechent jamais …
La rivière argent,
qu’est-ce que je dois faire ?
Je peux seuleument lever les yeux,
ne peut pas tuer,
n’a pas la puissance,
le sentiment qui est plus fortet là, j’entend un rire,
très fort,
est-ce qu’il s’agit de moi ?
Une chanson qu’il avait chanté pour moi,
une épée qui me fait être blessuré …
et quand le Coeur devient rouge,
il marche sans regarder en arrière …
La rivière argent,
au secour …
m’emprunte ton brillant un instant,
puisque cette plaie guérisse,
m’arrose ta calme un instant,
puis que le feu dans mon Coeur éteigne …
jak rabu 4 sept 2002 jam 2.04 siang

Selasa dua puluh delapan september dua ribu dua sore empat tiga lima ku tatap langkah nya merayap menuju tempat ku mematung. Ku lihat senyum di lukisan alam wajah nya, dan sebaris sapa terlontar menuju diri ku, delapan bulan tanpa tatap muka. Ada gejolak rindu yang sangat kuat ku rasakan untuk sang kekasih hati ku. Tak kuasa memalingkan mata ku lempar jawab tanpa kejujuran, dan tak tahan pula menahan luapan pertanyaan yang telah bergelantungan di tenggorokan, ku tarik sosok nya mendekat bertumpu pada keangkuhan tembok tinggi panjang kekar.
Berdiam diri ia menatap diri ku tanpa kuasa mengeluarkan penjelasan yang ku mohon. Tanpa kehadiran sang pengertian sahabat terbaik selama menjadi kekasih nya, tanpa henti ku muntahkan pertanyaan tanpa jawaban panjang namun sulit bagi kekasih ku. Ku rasakan desiran usaha lelaki ku untuk memohon maaf dari ikatan rasa bersalah yang sedang ku kalungkan di tubuh nya. Dan seperti seorang pemburu biadab, tak kulepaskan buruan yang mulai masuk dalam perangkap. Sedikit demi sedikit hati ku mulai menangis, lagi, seperti yang selalu terjadi. Lelaki ku tidak bisa memuaskan dahaga pertanyaan percintaan ku. Ku dengar diri ku menjerit memohon keadilan. Tidak kah terpikir oleh tambatan hati ku, aku terus terseok selama ini menunggu cinta nya menyelubungi jiwa ku ?
Sebaris maaf berhamburan dari sepasang gelambir sang raja hati ku. Sedikit demi sedikit ku rasakan semilir rasa bersalah yang mengalir mengiringi perputaran udara di sekeliling kami berdua berdiri saling bertatapan. Sepasang penglihatannya tegak menelanjangi wujud ku, namun ku coba melawan arus ombak berbadai pejantan ku yang membasahi diriku sedari tadi, aku gagal. Lalu ku arahkan pandangan mata ku menuju lantai ubin trotoar kami berpijak.Di akhir penantian selama menjadi wanita nya ku dengar seuntai kata-kata perubah kehidupan ku, bukan kehidupan nya. Seperti yang telah menaungi ku selama ini. Lalu semuanya berakhir.
Ku paksa kaki ku meninggalkan diri nya, dan semua kenangan yang telah ia balurkan di setiap relung hati ku.
Setangkai keabadian bunga kekecewaan. Hanya itu yang terangkai, selain permainan kata-kata yang telah meniduri ku selama ini. Dan memang ia lah sahabat sejati ku, beriring air mata dan rasa sakit. Selamanya…..
Rabu 30 september 2002 jam 00.21 pagi, jkt

Libère de tous

Je ne oublierai jamais,
ces yeux,
plein de jalousies,
comblé de chagrin …
Jamais oublierai,
ces yeux,
que je ne sais jamais
dans le Coeur profond j’étais blessé …
Je veux revenir à ma rue,
ma rue passé ,
sans douleur
Je vais jeter toutes malheureuses !
Je vais jeter mon Coeur blésse !
bien qu’ils croient ce ne finira jamais
J’ai fait les efforts pour comprendre
tous ces questions
de ce que je sentais
bien qu’il n’y avait pas de vagues
jusqu’à un jour tu m’ai aimé
Libère moi !Libère de tous des chagrins
Jamais me préviens de voler
suivre la nuit et le matin
Il y a encore beaucoup d’espoir
pour moi …pour moi …pour moi …
jak rabu 4 sept 2002 jam 2.21 siang

tanpa nama


Jam ini mendung
Ada awan hitam menaungi
Berjalan terseok memayungi gedung busukku
Satu lagi jendela akan retak mengikuti kaca renta lainnya
Dan…. Prang!!
Tengok, dan bingkainya ternyata sudah hancur
Bingkai kaca, mengelilingi kaca
Kini dia gundah ta’ ada baut
Dan mengikuti angin yang meniup dengan seenak perutnya
Sesuka hati
Satu detik, dua detik, tiga detik
Dan…. Prang!!!!!!
Dia berkeping juga akhirnya
Anak-anak kecil berlari berlomba
Berebutan memungut tubuh kaca
Satu, dan dipecahkan lagi, menjadi pasir
Diikuti saudara-saudaranya
Terinjak langkah
Dan…. Whuzzsss!!!!
Kini dia terbang menyatu bersama angin
Tanpa nama
Jak, 27 jan 05, 15.07
(quand ton couteau poignarde mon Coeur, dans le Coeur profond j’etais blessee)

menu utama restoran

Seperti sebuah papan dengan bujur sangkar hitam dan putih berselang letak, putih dikelilingi hitam dan hitam diputari putih
“Jalani saja karena sang ujung akan menampilkan wajahnya…”
tapi aku ingin ada kelabu, saat hitam bisa kuubah menjadi tidak hitam, dan putih kusihir bukan putih.
“Memangnya siapa kau? Pencipta dunia?”
“Aku penghuni! Tapi tidak ada hukuman pancung kan bagi penolak fakta???”
“Memang tidak ada, tapi tangga ke langit ke delapan tidak pernah terbaca di menu sajian. Hanya ada steak langit pertama, sampai french fries langit ketujuh. Jangan mimpi!”
“Fine! Kalau begitu aku mau orange jus kelima ku diganti menjadi udang rebus ketiga! Tapi karena aku tidak mau mati karena alergi seafood, sediakan juga tablet penolaknya!”
“Kau bukan Pemilik! Lebih baik hengkang, dan bawa semua milikmu sebelum security menyeretmu dengan gigi-gigi tajam herdernya!”
Aku tidak pernah salah karena menyayangimu sejak dulu namun terlalu sombong untuk mengakuinya, sampai sekarang! Aku tidak pernah salah karena sekarang sudah ada sebongkah daging leleh yang melumuri aku dengan minyak miliknya dan janjiku. Sekarang terlalu banyak daun kering yang siap menguliti aku bila kumohon angin malam bertiup hanya untuk kasih lalu dan kini milikku. Yang salah adalah mengapa aku harus menjadi diriku! Lemparkan untukku sebuah dadu dan mungkinkah sisi tanpa angka yang tersenyum???
Jak 26 april 05, 23.00

tulang anjing geladak

tulang
aku hanya punya satu ruang sempit temaram namun tulus dan kesesakan itu harus mampu kuberi untuk dua makhluk tercintaku
ANJING
aliran listrik sudah ta’ mampu lagi mengganti bola lampu redup yang kian hari semakin gulita. dinding gelap mengalirkan air mata, menjerit-jerit memutuskan tali gendang telinga, membungkuk membuat tetesan ingus menjadi ombak. hidung semakin tegak, dan mata mengeluarkan gemerutuk mengiringi bibir yang semakin menipis menjadi satu dalam dau dan pipi
geladak
pintu terketuk dan lantai menjawab, “Aku tahu jendela menutup kacanya rapat-rapat, tapi apa bisaku? Bahkan menggeser alas kaki welcome pun aku ta’ mampu. Katakan saja dambamu ke atap yang mentereng gagah, ia mampu melindungimu dari seringai matahari dan peluk beku laut perak. Aku ta’ mampu! Tapi walaupun begitu kau ta’ kan bisa pergi, karena sang atap meludahimu! Seperti anjing geladak yang melumuri tulang dengan air liur!”kami lalu memejamkan mata dalam gundukan dengan nisan bertuliskan peristirahatan terakhiraku hanya punya satu ruang sempit temaram namun tulus dan kesesakan itu harus mampu kuberi untuk dua makhluk tercintaku: sepotong tulang untuk dua ekor anjing geladak.
Jakarta Kamis 14 April 2005, 22.19

gaun pengantin warna hitam

Kali ini ku kecup lagi sekuntum kembang kelelahan pada rasa dan seperti biasa aku ta’ punya kuasa untuk menahan
Merangkak menjamah tapak yang ta’ akan pernah kembali dalam pelukan
Awan kelelahan meneteskan air liur, menggenangi gaun kebersamaan karena cinta sejati yang hampir mencapai takdir
Alangkah bahagianya mereka yang mampu merangkai dan memakainya…
Lembar gaun terkoyak digerogoti detik-detik karat, menyumbang jeritan menyisakan kapas-kapas busuk
Puing-puing gaun kita tergenggam dalam kepalan jari-jari…lalu menyelinap, melayang dan menyatu bersama hembusan tatapan angin tanpa daya, hangus karena sinar matahari dan membeku dicengkeram kuku malam
Aroma pedih merebak menyibak tirai tanduk terkuat
Yakinkan aku memang ta’ ada cinta sejati terwujud
jakartasabtusembilanbelasebruariduaribulimatujuhmalamlewatsepuluhmenit

teh manis, teh susu, dan teh kopi...

aku kosong tanpa buih dan ombak itu meleburkan debu halus hidupku semuanya menyatu dalam cawan membentuk secangkir teh manis hangat semakin ku minum semakin nikmat dan semakin haus aku meneguk menghapus haus kerongkongan keringku… hmmm, teh susu? sehat tapi aneh Dan betul aku sehat, wal’afiat..apalagi setelah ku berkenalan dengan teh kopi, sekali minum bikin ketagihan pengen lagi pengen lagi dan pengen terus..tapi lama-lama uluhatiku menuntut, tiap hari ada balon di situ..semua gara-gara teh kopi. dengan keharusan yang ragu ku bilang aku sekarang punya balon, dan kamu jawab, “Ayo ke dokter, supaya balon kamu itu sembuh!”
aku tidak suka, tapi aku cinta dengan teh kopi dan balon ku ini…seandainya dulu aku hanya minum teh susu, pasti aku sekarang makin sehat dan kuat menjalankan semua aktifitas ku sehari-hari…

telor ato Ayam...???


Melepaskan penat setelah melakukan aktifitas seharian di luar rumah, atau ga tahu musti melakukan apa di akhir minggu, jawabannya adalah memegang remote control dan duduk di depan pesawat televisi mencari-cari acara yang disukai. Hiburan murah yang tidak mengeluarkan duit sepeserpun, dibandingkan dengan beli atau sewa vcd, atau pergi ke mall buat nonton atau shopping. Tetapi belum juga 5 menit tenggelam di acara favorit, kita sudah disuguhi iklan. Iklan apa pun itu. Iklan obat pusing, iklan sabun cuci, iklan kompor, iklan rokok, iklan obat kuat, iklan sepatu, sampai iklan pemilihan presiden, iklan layanan masyarakat dan iklan sinetron. Tangan kita lalu meraih remote, dan siap memindahkannya ke channel lain. Tapi lagi-lagi yang kita temukan adalah barisan iklan. Sepertinya mereka sudah punya perjanjian bahwa di jam-jam kesekian, menit-menit kesekian, dan di detik-detik kesekian mereka akan memuntahkan iklan. Setelah itu, baru acara kuis, sinetron, atau film-film India dilanjutkan secara bersamaan… Politik siap tempur pertelevisian untuk berlomba-lomba pamer kebolehan acara mereka…

Memang tidak ada yang bisa disalahkan, karena televisi tidak bisa dipisahkan dari iklan, dan iklan tidak bisa dipisahkan dari televisi. Saling bergantung dan saling menguntungkan secara ekonomi… Sama seperti saya, saya butuh televisi untuk ditonton acaranya, untuk hiburan gratis, walaupun sebenarnya tidak gratis total karena nonton tv juga butuh listrik, tapi at least gratis lah dibandingkan rentetan aktifitas di atas tadi… Televisi juga butuh saya, sebagai pemirsa, sebagai orang yang menyukai acaranya, untuk menambah-nambah jumlah ratting mereka, dan pada akhirnya duduk diam: nonton.. Lalu supaya semua insan terpenuhi kebutuhannya, terjadilah pemanfaatan moment, diselipkanlah iklan-iklan. Lalu permasalahannya apa..?

Bombardir iklan. Cukup duduk, jangan pindah channel waktu ada iklan, dan amati.

Masih ingat adegan iklan salah satu rokok, dimana seorang pegawai restoran yang sambil membuat adonan terbayang sedang memijat punggung seorang perempuan seksi di pinggir pantai? Iklan ini sempat mengundang kritikan ketika itu. Bagaimana tidak, iklan rokok ini sebenarnya kreatif, tapi sayang telah mendukung eksistensi laki-laki, dan menjadikan perempuan sebagai obyek seks. Saking gilanya pengaruh rasa nikmat yang bisa ditimbulkan rokok tersebut, sampai-sampai mampu membuat si pekerja restoran itu mengkhayal sedang mengulas tubuh perempuan, padahal sebetulnya adonan kue yang sedang digilasnya.

Cerita iklan shampoo. Dua perempuan bertemu dengan seorang teman perempuan yang sudah lama tidak bertemu, di sebuah counter pakaian sebuah mall. Perempuan yang satu ini sekarang cantik, rambutnya hitam, panjang dan indah terawat. “Belum punya anak sih, jadi punya waktu deh…” Kalimat itu yang terlontar karena mereka terpana menyaksikan satu temannya ini menjadi cantik. Lalu muncul seorang anak perempuan kecil yang ternyata anak perempuan cantik tersebut. Lalu sosok perempuan muda yang digambarkan sedang sedih karena teman laki-lakinya lebih tertarik pada perempuan lain yang kulitnya lebih putih pada iklan pelembab yang mengandung whitening. Selain menekan-nekankan soal kulit putih, iklan ini juga menekankan bahwa usaha mendapatkan kulit putih adalah untuk menyenangkan laki-laki. Citra yang muncul, perempuan yang cantik adalah perempuan berkulit putih, berambut hitam dan panjang. Perempuan seperti inilah yang akan selalu mendapat tempat eksklusif di mata para pria, bahkan masyarakat. Perempuan diharapkan mampu tampil menawan, berkarakter lembut, berkulit halus, pandai mengurus rumah tangga, memasak, mengurus anak, dan selalu mampu tampil prima untuk menyenangkan suami.

Ada juga iklan rapet kewanitaan. Gambaran sepasang pengantin yang baru menikah. Si pengantin perempuan disarankan memakai salah satu produk rapet kewanitaan, supaya rumah tangga terus bahagia. Di sini citra perempuan sebagai pemuas laki-laki sangat terasa. Tanggung jawab kebahagiaan dan kelanggengan rumah tangga sepenuhnya di pundak istri. Kalau sang suami menyeleweng, maka yang salah adalah si istri karena tidak bisa memuaskan di ranjang. Padahal ga juga kan?! Kalau suaminya memang mata keranjang dan doyan perempuan, ya ada aja tuh w.i.l. alias wanita idaman lain…

Seorang ibu muda yang kebingungan ketika anaknya sedang sakit batuk. Sang nenek sebagai tokoh penyelamat sampai datang walaupun malam itu sedang hujan. Memandang anak perempuannya dengan mata sebal, menyalahkan seakan-akan anak perempuannya ini tidak becus mengurus anak yang sebenarnya hanya sakit ringan: sakit batuk. Lagi-lagi memunculkan gambaran masyarakat bahwa hanya perempuan yang punya peran mengurus anak sakit. Perempuan menindas perempuan. Sang nenek disini sebagai wakil masyarakat, dan sang ibu sebagai wakil perempuan dalam komunitas masyarakat.

Lagi, iklan sebuah multivitamin. Si ibu pulang kerja, kelelahan karena aktivitas kantor yang menyita waktu dan tenaga. Sampai di rumah sudah tidak punya tenaga lagi mengurus rumah, anak, dan suami. Citra perempuan adalah pilar rumah tangga. Ia harus juga menjalankan tugas tradisional, walaupun sudah seharian punya keinginan wajar yaitu mewujudkan impian karirnya, atau keinginan mulia membantu sang suami memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Lagi-lagi perempuan harus menjadi super women. Serba bisa. Boleh punya impian karir setinggi langit, tapi tetap harus mengurus rumah juga. Tidak ada pembagian tugas yang adil dalam perkawinan.

Iklan sabun cuci yang selalu menggunakan perempuan sebagai tokoh utamanya. Iklan minyak goreng, iklan kompor yang selalu meletakkan perempuan selalu ada di dapur dan sangat akrab dengan tugas-tugas domestik. Iklan rokok yang selalu menampilkan laki-laki sebagai pejantan tangguh penikmat tembakau tersebut, padahal dari dulu juga tidak terhitung banyaknya perempuan yang termasuk dalam golongan penikmat asap, apalagi di dunia modern seperti sekarang ini…

Citra-citra iklan seperti itulah yang sering dilayangkan ke hadapan kita, bahwa semua iklan yang berhubungan dengan memasak, mengurus anak, rumah dan segala printilannya, menggunakan perempuan (istri) sebagai pelaku utama. Bila mau sukses perempuan harus selalu tampil cantik dan muda. Cuma perempuan yang punya tugas mengurus segala tetek bengek rumah tangga. Perempuan harus berupaya untuk cantik dan sehat untuk memperoleh persetujuan atau perhatian laki-laki dan masyarakat. Perempuan juga dicitrakan tidak menawan bila tidak menggunakan produk kecantikan, tidak tampil muda, tidak berkulit putih, tidak lembut, dan tidak langsing.

Citra laki-laki adalah jantan, kuat perkasa, pencari nafkah, pelindung, atau sebagai atasan.

Satu lagi, yang sering saya dengar dari nasehat nenek-kakek, saya tahu dari cerita-cerita jaman dahulu, atau saya baca dari karya-karya sastra era Sitti Nurbaya: setinggi-tingginya perempuan terbang, jatuhnya ya ke dapur (walaupun kalau jaman sekarang dapurnya bukan seperti dapur jaman nenek saya dulu, dapur modern dengan segala fasilitas, microwave, kulkas keren, tapi tetep aja judulnya ya dapur). Stereotip lama yang ternyata masih sukses hidup sampai abad ini…

Mau tidak mau, iklan memang tidak lepas dari konteks budaya masyarakatnya sendiri, terbentuk dari stereotip, pola pikir dan cara memandang masyarakat pada suatu hal. Bila itu memang terbukti benar adanya, ya maka memang seperti itulah citra perempuan di mata masyarakat (walaupun iklan cenderung melebih-lebihkan realitas). Dalam persaingan dagang yang terus-menerus ketat, bukan ga mungkin citra tersebut selalu digunakan untuk merangsang konsumen. Lalu? Semuanya kembali lagi kepada kita semua untuk bisa bersikap lebih kritis… Apakah mungkin stereotip bisa diubah, dan sebuah kerinduan para perempuan dapat diwujudkan menjadi penilaian dan penempatan sesuai dengan “prestasi” dan kapasitasnya sebagai manusia? Lalu mana dong yang harus dirubah lebih dulu, stereotip di masyarakat, ataukah citra di iklan…? Jawabannya sama sulitnya, ketika kita harus menjawab pertanyaan: Mana yang lebih dulu ada, telor ato ayam…???
(Shinta Larasati di Jakarta 15 Des 2004 20:20)