Avoir Froid De La Solitude De La Vie

J'ai trois fenetres ma chambre, l'amout, la mer, la mort, et toi...?

Wednesday, December 14, 2005

Kenapa yaa...? Menikah itu bukan hal gampang lohh...!

Sebuah tulisan kontradiktif dari apa yag sudah saya tulis sebelumnya, yaaa.., tulisan ini.

Let me explain first, tulisan yang sebelumnya adalah sudut pandang seorang sahabat, sedangkan yang ini adalah pendapat saya sendiri. Sahabat saya, penganut pandangan konservatif menurut saya, yang lebih suka pernikahan ”umur wajar”. Yang dimaksud ”umur wajar” disini adalah pernikahan yang bukan dilakukan saat kita umur kepala tiga yang tidak ditunda dengan sengaja oleh banyak faktor. Garis bawahi, bukan karena faktor belum dapet orang yang naksir atau ditaksir, a.k.a ga laku.

Sebuah pernikahan, bukan sesuatu yang main-main. Banyak sekali hal yang dipertimbangkan untuk menyelaraskan dua manusia, termasuk latar belakang sosial, karakter, kaluarga. Proses pencarian, pemilihan, penyesuaian terhadap semua hal tersebut, bukan suatu hal yang mudah dijalankan. Setidaknya kalau bagi orang diluar sana mudah, maka tidak bagi saya.

Bayangkan saja, jika semua hal tersebut tidak dilalui dengan pemikiran yang masak, maka taruhannya adalah kegagalan perkawinan. Bukan kebahagiaan saja yang jadi korban, tapi nama baik keluarga. Blon lagi bakal jadi gunjingan keluarga besar, teman-teman di kantor.

Apabila sebuah pertanyaan kapan akan menikah dilemparkan untuk saya, maka jawaban yang akan saya berikan adalah sebagai berikut: saya akan menikah saat saya sudah memiliki kesiapan keyakinan terhadap pertimbangan-pertimbangan yang memang cukup masuk akal, untuk saya. Kalau tidak ada keyakinan, walaupun saya sudah memiliki sebuah hubungan dengan seseorang, maka sebuah perkawinan tidak akan pernah ada sampai saya menemukan orang yang memang cocok dengan profile diri, lingkungan, dan keluarga darimana saya berasal. Karena kalau pernikahan tetap dijalankan dengan ketidakyakinan yang masih terus bercokol, maka hasilnya sudah dipastikan tidak akan seperti yang diharapkan. Coba lihat banyaknya kegagalan pernikahan yang disebabkan karena ketidakpuasan terhadap pasangan, atau adanya kehadiran pihak ketiga. Kemungkinan terakhirnya adalah perceraian, atau melakukan poligami. Dan kembali lagi bahwa penyebabnya adalah karena sebuah ketidakyakinan, yang mungkin saja karena didorong oleh faktor-faktor misalnya perkawinan yang hanya karena faktor suka/asmara, kebutuhan unsur biologis, desakan orang tua, pertimbangan umur.

Setelah menikah, karena memang sayang pada pasangan, tapi mungkin tidak cinta-cinta amat, sekedar mempertimbangkan faktor-faktor di atas, lalu di tengah perkawinan bertemu seorang mantan, atau orang baru yang ternyata “tipe gue bangeet”. Yang muncul kemudian adalah ketidak-mampuan menahan hasrat yang memang belum pernah dirasakannya. Sangat wajar, dan tidak salah. Hanya salah timing. Lalu akhirnya terjadilah perselingkuhan. Punya anak lagi. Akhirnya istri/suami tahu ada kehadiran pihak ketiga. Tapi tidak bisa cerai. Terjadilah: poligami.

Hal utama yang harus dilakukan ialah kembalikan semua kepada hati kecil kita. Lakukan dengan jujur dan tanpa paksaan apapun dan dari pihak manapun. Bukan paksaan dari lingkungan, orang tua, atau bahkan ego kita sendiri. Apa betul saat ini adalah waktu yang tepat untuk menikah, jika ya, apakah betul orang ini adalah orang yang tepat. Kalau jawabannya tidak, segera ambil tindakan dengan menunda waktu pernikahan untuk kembali berpikir, atau malah mengambil tindakan frontal yaitu segera cari orang lain. Itu jauh lebih baik daripada membuang waktu dan umur.

Maka, jangan pernah melakukan sebuah pernikahan hanya karena suatu paksaan secara sosial, lingkungan, “kewajiban yang tak tampak” wujudnya. Wujudkan semuanya hanya karena sebuah ”suara” yang menciptakan satu keyakinan: Yup, ini saatnya saya menikah karena dialah orangnya!


Kantor Jak Rabu 14 Des 05, 20.10

Kenapa kamu belum menikah juga...?

Ga berasa sudah akhir bulan, dan sudah saatnya harus melakukan aktifitas belanja kebutuhan untuk satu bulan ke depan. Lalu tiba-tiba handphone berbunyi. Ternyata sahabat lama. Kangen ingin ketemu katanya, dan yang pasti kangen curhat. Tempat dan waktu langsung ditentukan. Transaksi belanja bulanan segera diselesaikan, dan melesat keluar mencari taksi. Taksi? Mppffhh… sebenarnya saat ini jasa transportasi yang satu ini sudah bukan favorit, rugi rasanya karena tarifnya sudah melonjak menjadi demikian ”baru” tapi pelayanan masih model “lama”… Namun demi mengejar waktu untuk bertemu teman lama, it’s ok lah!

Satu jam, sudah plus macet, saya sampai di lokasi yang sudah disepakati. Sang sahabat sudah 5 menit tiba lebih dulu. Sebuah ritual biasa, cium pipi kanan dan kiri, dan saling menggoda dengan celaan: kok tambah gendut, ih tambah item deh lo terjadi. Setelah pesan minum dan cemilan ringan, kami mulai membuka percakapan dengan pertanyaan: apa kabar lo, gimana kerjaan lo, gimana bos lo masih galak, gimana cowok lo, gimana nyokap lo masih suka ngomel…

Lalu percakapan mengarah ke arah curhat. Sahabatku mau kawin pertengahan tahun ini. Waduuuhhhh seneng banget saya dengernya… Kontan saya berdiri, dan memeluknya sebagai ekspresi ikut senang atas kebahagiaannya. Tapi reaksi yang diberikannya justru sungguh mencengangkan. Dia ga senang! Aneh! Padahal dimana-mana, niat baik berupa ajakan melangkah ke gerbang pernikahan dari sang pacar adalah kebahagiaan, karena merupakan satu langkah ke depan dalam sebuah hubungan.

“Lo emang dijodohin bokap nyokap lo ama tu cowo ?”
“Gak!”
“Lah, trus knapa? Lo berdua kan udah 4 taun pacaran. Bagus dong kalo sekarang akhirnya married. Kenapa sih?”
“Gue blon siap!”

Pertanyaan-pertanyaan menghujani kepala saya dan coba mencari sendiri jawabannya: Waduh?! Kok blon siap? Knapa? Umur, cukup: ga ketuaan, ga kemudaan. Lama pacaran, cukupan lah, kalo lebih lama pacaran malah biasanya bahaya bisa jadi bosen. Lah trus apanya yang blon siap…??? Banyak dari teman-teman yang sudah pengen married tapi sayang calonnya belom juga ketemu-ketemu.


Banyak faktor yang membuat individu menjadi ragu untuk melangsungkan pernikahan. Antara lain karena proses seleksi ketat yang mereka targetkan terhadap calon pasangannya. Untuk mendapatkan kriteria sempurna sering sekali selalu melakukan stardarisasi harus siapa, atau seperti apa si pasangan. Dan yang lebih gawatnya, patokan sempurna tersebut dipengaruhi oleh standarisasi gaya hidup, tuntutan sosial. Alangkah baiknya apabila proses standarisasi ini dihilangkan, dan kita lebih melihat kepada hal-hal yang memang dapat terus “hidup” sampai kita menjadi tua. Hal-hal yang memang sangat cocok dengan kepribadian dan karakter, yang akan terus mampu menopang kestabilan hidup secara moril, misalnya perhatian yang diberikan, kemampuan pasangan kita bersosialisasi, intelektualitas, agama, kelancaran komunikasi, kondisi pekerjaan dan finansial, keterbukaan akan seks, kesamaan hobi dan minat,

Fenomena lain yang kini sedang marak adalah sebagian dari generasi muda justru mengalami ketakutan yang mengarah kepada ketidaksiapan mereka secara finansial, dan ketidaksiapan mental. “Gue baru akan married setelah gue punya gaji sekian, setelah gue dapet gelar S2-S3, setelah gue udah punya mobil, setelah gue udah punya rumah, bla…bla…bla… Yahh, kalau ga gitu ntar anak gue mau dikasi makan apa, atau kalau ga gitu ntar kalo misalnya gue cerai ama suami gue ga bisa ngapa-ngapain dong jadi gue musti ngumpulin duit dulu biar gue juga punya tabungan, atau gue married pas umur kepala tiga aja ah supaya mental gue lebih siap gue lebih dewasa ngadepin masalah” pernyataan-pernyataan itu yang sering ada pada mereka. Sementara itu ditengah kesibukan meraih keinginan dan impian, mereka tidak sadar bahwa waktu terus berjalan dan umur mereka terus bertambah.

Saat semua impian sudah dinilai tercapai, akhirnya pernikahan terlaksana saat memasuki kepala tiga. Iya kalau yang di Atas memang langsung mempercayakan untuk ”menitipkan” seorang, atau sukur-sukur lebih dari satu anak, nah kalau tidak...? Belum lagi masa subur yang terbatas, perempuan semakin beresiko melahirkan atau mengandung yang berbahaya pada keselamatan ibu dan janin, dan kondisi sperma laki-laki yang tidak lagi sebagus di umur yang lebih muda. Coba hitung pula berapa umur kita saat anak kita menginjak remaja, dimana umur tersebut sangat rentan dengan pemberontakan-pemberontakan karena pencarian jati diri, apa kita mampu mengimbangi sang anak dengan segala pengertian dan pemahaman terhadap dunia mereka, padahal umur kita sudah terlalu tua untuk sebuah pembaharuan dan pemikiran yang lebih terbuka bila dibandingkan dengan keterbukaan semasa era kita remaja ?

Umur, rezeki adalah sesuatu yang abstrak. Bagaimanapun, apapun, dan kapanpun, kalau memang diberikan pasti akan kita peroleh. Jadi sahabat lamaku, jangan pikirkan mengenai status sosial dan jangan takut dengan kurangnya rezeki yang dititipkan kepada kita, kalau memang ”untuk” kita, maka itulah ”milik” kita.

Kantor Jak Rabu 14 Des 05, 20.08